Sejatinya kitab ini berjudul al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa’l-muqabala. Dalam bahasa Inggris kitab ini dikenal sebagai “The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing”. Kitab peletak dasar matematika modern itu biasa pula disebut Hisab al-jabr wal-muqabala. Kitab ini merupakan karya seorang ilmuwan Muslim pada abad ke-9 M yang sangat monumental.
Adalah Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi sang penulis kitab matematika itu. Matematikus Muslim asal Persia itu merampungkan kitab yang sangat populer dan menjadi rujukan para ahli matematika sepanjang zaman itu pada 820 M. Berkat kitab inilah, dunia matematika modern mengenal istilah Aljabar. Aljabar berasal dari bahasa Arab al-gabr yang berarti “pertemuan” atau “hubungan.”
Aljabar merupakan cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika. Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur aljabar abstrak, yaitu aljabar dalam sebuah bidang. Carl B. Boyer dalam karyanya bertajuk “The Arabic Hegemony”: A History of Mathematics, mengungkapkan, Kitab Aljabar karya Khawarizmi menguraikan perhitungan yang lengkap dalam memecahkan akar positif polynomial persamaan sampai dengan derajat kedua.
Boyer menambahkan, kitab karya Khawarizmi itu juga memperkenalkan metode dasar “mengurangi” dan “keseimbangan/balancing”, yang mengacu pada perubahan syarat-syarat mengurangi sisi lain sebuah persamaan yaitu pembatalan syarat-syarat seperti sisi berlawanan dari persamaan.
Kitab Aljabar juga telah menjadi rujukan ilmuwan sepanjang masa, baik itu bagi matematikus Islam maupun Barat. Beberapa saintis terkemuka juga telah menerbitkan buku dengan nama Kitab al-Gabr wa-l-muqabala, diantaranya; Abu Hanifa al-Dinawari serta Abu Kamil Shuja ibnu Aslam.
Selain itu, Abu Muhammad al-’Adli, Abu Yusuf al-Missisi, ‘Abd Al-Hamid ibnu Turk, Sind ibnu ‘Ali, Sahl ibnu Bišr, dan Sarafaddin al-Tusi juga termasuk ilmuwan Muslim yang banyak terpengaruh pemikiran Khawarizmi.
R Rashed dan Angela Armstrong dalam karyanya bertajuk The Development of Arabic Mathematics, menegasakan bahwa Aljabar karya Al-Khwarizmi memiliki perbedaan yang signifikan dibanding karya Diophantus, yang kerap disebut-sebut sebagai penemu Aljabar. Dalam pandangan kedua ilmuwan itu, karya Khawarizmi jauh lebih baik di banding karya Diophantus.
“Teks karya Khwarizmi begitu berbeda, tidak hanya dari buku karya orang Babilonia, tetapi juga dari karya Arithmatika-nya Diophantus. Ini tidak lagi menyangkut sejumlah masalah untuk diselesaikan, namun sebuah pertunjukan yang dimulai dengan istilah sederhana yang kombinasinya memberikan semua kemungkinan untuk persamaan dasar, yang mulai saat ini secara eksplisit merupakan objek studi yang benar,” papar Rasheed dan Armstrong.
Hal senada diungkapkan sejarawan sains JJ O’Connor dan EF Robertson pada karyanya berjudul History of Mathematics. Menurutnya, karya matematikus Persia itu merupakan karya yang revolusioner. “Mungkin salah satu kemajuan yang paling signifikan yang dibuat ahli matematika Arab hingga saat ini adalah karya Khawarizmi, yakni Kitab Aljabar,” ujar O’Connor dan Robertson.
Menurut keduanya, Kitab Aljabar sungguh sangat revolusioner, karena mampu beralih dari ari konsep matematika Yunani yang didasarkan pada geometri. ‘Dalam pandangan O’Connor dan Robertson, Kitab Aljabar yang ditulis Khwarizmi berisikan teori pemersatu yang menyediakan angka-angka/bilangan rasional, angka-angka irasional, besar/jarak geometri, dan lain-lain.
O’Connor dan Robertson menambahkan semua bilangan tersebut diperlakukan sebagai “objek aljabar”. Hal itu dinilai sebagai sebuah perkembangan bagi matematika. Pasalnya, Kitab Aljabar telah membuka jalan baru bagi konsep yang telah ada sebelumnya.
“Dan ini merupakan sarana yang dapat menjadi kendaraan bagi pembangunan masa depan s. Aspek lain yang penting adalah aspek pengenalan gagasan Aljabar yang telah disediakan matematika yang akan diterapkan untuk dirinya sendiri dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” papar O’Connor dan Robertson.
Kitab karya Khawarizmi itu merupakan sebuah kompilasi dan perluasan aturan yang diketahui untuk memecahkan persamaan kuadrat dan untuk beberapa masalah lain, dan dianggap sebagai dasar aljabar moderen. Buku yang sangat populer ini mulai diperkenalkan ke dunia dunia Barat lewat terjemahan bahasa Latin oleh Robert of Chester berjudul Liber algebrae et almucabala.
Karena buku ini tidak memberikan sejumlah kutipan untuk penulis sebelumnya, sehingga tak diketahui pendapat siapa saja yang digunakan Khwarizmi sebagai referensi dalam karyanya itu. Sejarawan matematika modern mengomentari kitab itu berdasarkan analisis tekstual dari buku dan seluruh tubuh pengetahuan tentang dunia Muslim kontemporer.
Pastinya yang paling berhubungan dalam karya Khawarizmi adalah ilmu matematika India. Pasalnya, ia telah menulis buku berjudul Kitab al-Jam wa-l-tafriq-bi-hisab al-Hind atau The Book of Addition and Subtraction According to the Hindu Calculation yang membahas sistem bilangan Hindu-Arab.
Buku persamaan pengurangan kuadrat acak ke salah satu dari enam jenis dasar dan menyediakan metode aljabar dan geometri untuk memecahkan dasar utama. “Pengurangan angka-angka abstrak modern dalam aljabarnya Khawarizmi adalah retorik menyeluruh, dengan tidak ada yang sinkopasi ditemukan pada Aritmatika Yunani atau karya Brahmagupta. Bahkan angka-angka yang ditulis lebih banyak dalam kata-kata daripada simbol,” tutur Carl B Boyer, dalam karyanya bertajuk A History of Mathematics.
Dengan demikian persamaan akan dijelaskan secara lisan dalam bentuk istilah “kuadrat” (sekarang menjadi “x2″), “akar” (sekarang menjadi “x”) dan “angka”(biasa dibilang angka, seperti ‘40-2′). Enam jenis persamaan dengan angka-angka modern, adalah:
* kuadarat sama dengan akar ( ax2 = bx )
* kuadrat sama dengan angka/bilangan ( ax2 = c )
* akar sama dengan angka ( bx = c )
* kuadrat dan akar sama dengan angka ( ax2 + bx = c )
* kuadrat dan angka sama dengan akar ( ax2 + c = bx )
* akar dan angka sama dengan kuadrat ( bx + c = ax2 )
Bagian berikutnya dari buku ini membahas contoh-contoh praktis dari penerapan peraturan yang telah dijelaskan. Bagian berikut, berkaitan dengan penerapan masalah pengukuran luas dan volume atau isi. Bagian terakhir berkaitan dengan perhitungan yang melibatkan aturan yang sulit dari warisan Islam.
Kisah Hidup Bapak Aljabar
Bapak Aljabar. Begitulah ilmuwan yang bernama lengkap Abu ‘Abdallah Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi itu kerap dijuluki. Ia merupakan seorang ahli matematika dari Persia yang dilahirkan pada tahun 194 H/780 M, tepatnya di Khwarizm, Uzbeikistan. Karena itulah, ia kerap kali disapa dengan panggilan Khawarizmi.
Selain terkenal sebagai seorang ahli matematika yang agung, ia juga adalah astronomer, dan geografer yang hebat. Berkat kehebatannya, Khawarizmi terpilih sebagai ilmuwan penting di pusat keilmuwan yang paling bergengsi pada zamannya, yakni Bait al-Hikmah atau House of Wisdom yang didirikan khalifah Abbasiyah di metropolis intelektual dunia, Baghdad.
Bait al-Hikmah merupakan lembaga yang berfungsi sebagai pusat pendidikan tinggi. Dalam kurun dua abad, Bait al-Hikmah ternyata berhasil melahirkan banyak pemikir dan intelektual Islam. Di antaranya, nama-nama ilmuwan seperti Khwarizmi.
Khawarizmi adalah seorang ilmuwan jenius pada masa keemasan Islam di kota Baghdad, pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Ia sangat berjasa besar dalam mengembangkan ilmu aljabar dan aritmetika. K
Kitab Aljabr Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan pertama kalinya dalam sejarah dimana istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu. Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal tersebut. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia. Bahasan yang banyak dinukil oleh ilmuwan barat dari karangan Khawarizmi adalah tentang persamaan kuadrat.
Sumbangan Al-Khwarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.
Selain mengarang al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, ia juga diketahui telah menulis beberapa buku dan banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmetikanya, satu diantaranya berjudul Kitab al-Jam’a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi (Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu).
Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Khawarizmi meninggal pada tahun 262 H/846 M di Baghdad. (Republika online, 24/06/2009)
Senin, 28 Maret 2011
manfaat gerakan shalat
Gerakan shalat mengilhami peneliti untuk menciptakan gerakan senam yang bisa mengurangi depresi.
REPUBLIKA.CO.ID, -Penyakit kencing manis Diabetes Melitus tipe 2 termasuk jenis penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini terjadinya karena adanya gangguan kerja insulin akibat ketidakpekaan sel target terhadap insulin.
Namun, penderita penyakit ini tak perlu putus asa. Pasalnya, berdasarkan penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dampak dari penyakit dapat dikurangi dengan melakukan senam ergonomis. Setidaknya dengan rajin melakukan senam ergonomis, pasien diabetes dapat mengurangi terjadinya depresi akibat menderita diabetes ini.
Adalah tiga mahasiswa FK-UMY yang mempelajari hubungan antara senam ergonomis dengan penyakit diabetes melitus tipe 2, dengan judul penelitian ‘Pengaruh Senam Ergonomis terhadap skor depresi pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2′. Para mahasiswa itu adalah Aditiya Pramudya, Wiramas Ikhsan Gafar, dan Fitria Puspita Dewi.
Senam ergonomis ini merupakan senam yang diilhami dari gerakan shalat yang mengandung fungsi autoregulasi dan adaptasi tubuh manusia dengan otak sebagai pusat pengendali Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan dengan melibatkan 30 orang pasien DM tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Kasihan 1 Bantul, yang berusia 40-65 tahun. “Dalam penelitian kami, tercatat penderita DM tipe 2 paling banyak pada golongan usia 40-65 tahun,” jelas Wiramas.
Dijelaskannya, penderita DM tipe 2 umumnya mengalami peningkatan gula darah yang memicu naiknya hormon kortisol, epinefrin, dan norepinefrin yang kesemua hormon tersebut menyebabkan depresi. “Pada pasien DM tipe 2 yang diikuti gangguan depresi akan menunjukkan kendali glukosa buruk dibandingkan pasien DM tipe 2 tanpa gangguan depresi. Secara psikis, depresi juga sebagai penanda adanya gangguan kepribadian yang terjadi karena penyakit DM tipe 2 yang diderita sepanjang hidup seseorang,” kata Wiramas dalam rilis Humas UMY, Sabtu.
Wiramas menjelaskan dalam terapi fungsi depresi, olahraga khususnya senam adalah terapi yang disarankan bagi penderita DM tipe 2. “Senam yang bisa menjadi alternatif terapi adalah senam ergonomis. Dengan senam ergonomis, seseorang dengan DM tipe 2 dapat mengontrolnya, termasuk mengelola psikisnya agar tidak merasa tertekan yang menjauhkan dari depresi,” jelasnya. Melalui senam ergonomis, kata dia, penderita DM tipe 2 dilatih untuk melakukan olah napas, melancarkan darah dan stimulasi syaraf, serta merangsang penurunan ketiga hormon yang dapat menurunkan depresi.
REPUBLIKA.CO.ID, -Penyakit kencing manis Diabetes Melitus tipe 2 termasuk jenis penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini terjadinya karena adanya gangguan kerja insulin akibat ketidakpekaan sel target terhadap insulin.
Namun, penderita penyakit ini tak perlu putus asa. Pasalnya, berdasarkan penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dampak dari penyakit dapat dikurangi dengan melakukan senam ergonomis. Setidaknya dengan rajin melakukan senam ergonomis, pasien diabetes dapat mengurangi terjadinya depresi akibat menderita diabetes ini.
Adalah tiga mahasiswa FK-UMY yang mempelajari hubungan antara senam ergonomis dengan penyakit diabetes melitus tipe 2, dengan judul penelitian ‘Pengaruh Senam Ergonomis terhadap skor depresi pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2′. Para mahasiswa itu adalah Aditiya Pramudya, Wiramas Ikhsan Gafar, dan Fitria Puspita Dewi.
Senam ergonomis ini merupakan senam yang diilhami dari gerakan shalat yang mengandung fungsi autoregulasi dan adaptasi tubuh manusia dengan otak sebagai pusat pengendali Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan dengan melibatkan 30 orang pasien DM tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Kasihan 1 Bantul, yang berusia 40-65 tahun. “Dalam penelitian kami, tercatat penderita DM tipe 2 paling banyak pada golongan usia 40-65 tahun,” jelas Wiramas.
Dijelaskannya, penderita DM tipe 2 umumnya mengalami peningkatan gula darah yang memicu naiknya hormon kortisol, epinefrin, dan norepinefrin yang kesemua hormon tersebut menyebabkan depresi. “Pada pasien DM tipe 2 yang diikuti gangguan depresi akan menunjukkan kendali glukosa buruk dibandingkan pasien DM tipe 2 tanpa gangguan depresi. Secara psikis, depresi juga sebagai penanda adanya gangguan kepribadian yang terjadi karena penyakit DM tipe 2 yang diderita sepanjang hidup seseorang,” kata Wiramas dalam rilis Humas UMY, Sabtu.
Wiramas menjelaskan dalam terapi fungsi depresi, olahraga khususnya senam adalah terapi yang disarankan bagi penderita DM tipe 2. “Senam yang bisa menjadi alternatif terapi adalah senam ergonomis. Dengan senam ergonomis, seseorang dengan DM tipe 2 dapat mengontrolnya, termasuk mengelola psikisnya agar tidak merasa tertekan yang menjauhkan dari depresi,” jelasnya. Melalui senam ergonomis, kata dia, penderita DM tipe 2 dilatih untuk melakukan olah napas, melancarkan darah dan stimulasi syaraf, serta merangsang penurunan ketiga hormon yang dapat menurunkan depresi.
tidur mengurangi depresi
Jangan biasakan begadang, kalau tidak ada aktivitas penting dan genting….anda biosa jadi mudah pening. Terutama bagi remaja yang biasa tidur lewat tengah malam akan lebih mudah terkena depresi, dibanding yang tidur lebih awal
Penelitian terbaru yang dilakukan di New York menunjukkan bahwa tidur lebih awal akan melindungi para remaja dari depresi dan pemikiran ingin bunuh diri.
Dari 15.500 remaja berusia 12 sampai 18 tahun yang dijadikan bahan studi, mereka yang tidur sebelum tengah malam, memiliki 24 % kecenderungan untuk mengalami depresi dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 22.00.
Dan mereka yang tidur kurang dari lima jam dalam semalam memiliki 71 persen kemungkinan depresi, dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam, demikian laporan Jurnal Tidur (Sleep).
Di Inggris diperkirakan sekitar 80 ribu anak-anak dan remaja mengalami depresi.
Para peneliti dari Pusat Medis Universitas Kolumbia di New York mengumpulkan daya dari 15.500 remaja di tahun 1990-an.
Resiko depresi
Di antara mereka yang memiliki resiko depresi tinggi, mereka yang diperintahkan tidur oleh orang tua mereka atau yang tidur setelah tengah malam, 20% lebih tinggi kemungkinan memikirkan tindakan bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 2200.
Mereka yang tidur kurang dari lima jam memiliki 48% lebih tinggi untuk bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam.
Para remaja yang melaporkan mereka “cukup tidur” 65% lebih kecil kemungkinan mengalami depresi.
Depresi dan pemikiran ingin bunuh diri lebih banyak terjadi pada anak-anak perempuan, remaja yang tua, atau mereka yang memiliki persepsi diri yang rendah.
Kebanyakan orang tua dalam studi itu menetapkan batas waktu tidur sekitar jam 22.00 atau lebih awal.
Secara rata-rata, para remaja ini tidur tujuh jam 53 menit setiap malam –kurang dari sembilan jam dari rekomendasi untuk anak-anak seumur mereka.
Penelitian terbaru yang dilakukan di New York menunjukkan bahwa tidur lebih awal akan melindungi para remaja dari depresi dan pemikiran ingin bunuh diri.
Dari 15.500 remaja berusia 12 sampai 18 tahun yang dijadikan bahan studi, mereka yang tidur sebelum tengah malam, memiliki 24 % kecenderungan untuk mengalami depresi dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 22.00.
Dan mereka yang tidur kurang dari lima jam dalam semalam memiliki 71 persen kemungkinan depresi, dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam, demikian laporan Jurnal Tidur (Sleep).
Di Inggris diperkirakan sekitar 80 ribu anak-anak dan remaja mengalami depresi.
Para peneliti dari Pusat Medis Universitas Kolumbia di New York mengumpulkan daya dari 15.500 remaja di tahun 1990-an.
Resiko depresi
Di antara mereka yang memiliki resiko depresi tinggi, mereka yang diperintahkan tidur oleh orang tua mereka atau yang tidur setelah tengah malam, 20% lebih tinggi kemungkinan memikirkan tindakan bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 2200.
Mereka yang tidur kurang dari lima jam memiliki 48% lebih tinggi untuk bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam.
Para remaja yang melaporkan mereka “cukup tidur” 65% lebih kecil kemungkinan mengalami depresi.
Depresi dan pemikiran ingin bunuh diri lebih banyak terjadi pada anak-anak perempuan, remaja yang tua, atau mereka yang memiliki persepsi diri yang rendah.
Kebanyakan orang tua dalam studi itu menetapkan batas waktu tidur sekitar jam 22.00 atau lebih awal.
Secara rata-rata, para remaja ini tidur tujuh jam 53 menit setiap malam –kurang dari sembilan jam dari rekomendasi untuk anak-anak seumur mereka.
psikologi warna
Penelitian ini telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Ditemukan bahwa warna favorit, atau warna yang paling mendominasi isi lemari mengungkapkan kepribadian seseorang. So, let’s have fun today. Intip warna favorit yang menceritakan soal Anda yuk!
Hitam
Anda yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. Anda sangat tahu apa kelebihan diri Anda. Warna hitam juga cenderung membuat Anda ingin tampil seksi dan percaya diri.
Pink
Warna ini cenderung dikenal sebagai warna feminin. Namun di balik girly image-nya, sebenarnya warna ini menyembunyikan kepribadian Anda yang misterius. Jadi, tak benar jika seseorang yang menyukai warna pink adalah sosok yang sangat girly, bisa jadi ia pandai memainkan gayanya.
Merah
Anda cerdas, berani dan vokal! Anda sangat suka berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Anda suka berpetualang dan tak suka ditentang.
Biru
Seperti kesan yang didapat dari kejernihan warnanya, Anda yang menyukai warna biru adalah sosok penyayang dan berjiwa bebas. Anda percaya bahwa kecantikan dari dalam dirilah yang membuat Anda cantik seutuhnya.
Orange
Warna ini menunjukkan Anda adalah orang yang tulus, menikmati tantangan dan hal-hal baru. Anda juga punya ambisi besar serta senang menjadi pusat perhatian.
Kuning
Jika Anda suka warna kuning, maka Anda adalah orang yang optimis. Suka akan tantangan dan kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga. Anda adalah orang yang fleksibel dan punya intuisi yang kuat.
Putih
Warna putih ini dikatakan sebagai warna netral, dan demikian pula dengan Anda yang memfavoritkan warna satu ini. Anda cenderung pecinta damai dan tak suka memihak. Anda juga termasuk orang yang tenang dan mudah berteman dengan siapa saja.
Hijau
Jika Anda pecinta hijau, maka tak salah lagi, Anda adalah sosok pecinta lingkungan. Sekalipun mungkin Anda bukan orang yang terjun di dalam organisasi pecinta lingkungan, namun Anda berusaha menjaga lingkungan sekitar Anda. Anda juga sosok yang keras kepala, namun sekaligus teman yang menyenangkan.
Hitam
Anda yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. Anda sangat tahu apa kelebihan diri Anda. Warna hitam juga cenderung membuat Anda ingin tampil seksi dan percaya diri.
Pink
Warna ini cenderung dikenal sebagai warna feminin. Namun di balik girly image-nya, sebenarnya warna ini menyembunyikan kepribadian Anda yang misterius. Jadi, tak benar jika seseorang yang menyukai warna pink adalah sosok yang sangat girly, bisa jadi ia pandai memainkan gayanya.
Merah
Anda cerdas, berani dan vokal! Anda sangat suka berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Anda suka berpetualang dan tak suka ditentang.
Biru
Seperti kesan yang didapat dari kejernihan warnanya, Anda yang menyukai warna biru adalah sosok penyayang dan berjiwa bebas. Anda percaya bahwa kecantikan dari dalam dirilah yang membuat Anda cantik seutuhnya.
Orange
Warna ini menunjukkan Anda adalah orang yang tulus, menikmati tantangan dan hal-hal baru. Anda juga punya ambisi besar serta senang menjadi pusat perhatian.
Kuning
Jika Anda suka warna kuning, maka Anda adalah orang yang optimis. Suka akan tantangan dan kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga. Anda adalah orang yang fleksibel dan punya intuisi yang kuat.
Putih
Warna putih ini dikatakan sebagai warna netral, dan demikian pula dengan Anda yang memfavoritkan warna satu ini. Anda cenderung pecinta damai dan tak suka memihak. Anda juga termasuk orang yang tenang dan mudah berteman dengan siapa saja.
Hijau
Jika Anda pecinta hijau, maka tak salah lagi, Anda adalah sosok pecinta lingkungan. Sekalipun mungkin Anda bukan orang yang terjun di dalam organisasi pecinta lingkungan, namun Anda berusaha menjaga lingkungan sekitar Anda. Anda juga sosok yang keras kepala, namun sekaligus teman yang menyenangkan.
Gelar Palsu & Kepribadian
Seringkali kita terheran-heran ketika seseorang yang kebetulan kita kenal dan sebelumnya tidak memiliki gelar apa-apa tiba-tiba sudah menyandang gelar setingkat Magister atau Doktor. Lebih heran lagi jika hal itu terjadi pada individu yang tinggal di kota dimana tidak ada Universitas resmi yang menyelenggarakan program setingkat S2 (magister) atau S3 (doktor). Komentar yang keluar dari sebagian orang adalah: kapan kuliahnya? Kok gampang amat dapat gelar doktor? Tesisnya tentang apa ya? Kok bisa dia dapat gelar itu padahal dia khan cuma tamatan SMU?
Komentar-komentar tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor) sungguhan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan, seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat S1 harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi: 4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas, dsb. Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang akan bisa meraih gelar yang diingingkannya karena ia masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu, membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis. Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar akademik yang pantas. Membaca berbagai buku teori, melakukan penelitian, menguji hipotesis, mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk jenjang pendidikan S2 adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10 tahun. Lamanya waktu yang harus ditempuh tersebut , bagi orang dewasa apalagi jika kuliah sambil bekerja, bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu tidak jarang bahwa beberapa mahasiswa tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Kondisi tersebut amat berbeda dengan program S2 atau S3 yang ditawarkan banyak "lembaga pendidikan" model "instant" yang membuka program-program di hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir, memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya jutaan rupiah( contoh: Rp 5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan Rp 20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi dari pihak penyelenggara kapan ada "pertemuan" dan jadwal wisuda. Mahasiswa yang mengikuti program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan atau menyelesaikan beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang gelar. Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie Instant. Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah "jual beli gelar". Jual beli gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada seseorang yang telah berjasa dan memiliki prestasi luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan) pun tidak luput dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika suatu saat kita menemukan ternyata salah seorang rekan atau kenalan kita tiba-tiba sudah menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu dengan pasti orang tersebut tidak memiliki prestasi luar biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat.
Beberapa pertanyaan yang perlu kita kemukakan untuk menyikapi fenomena jual beli gelar ini diantaranya adalah faktor apakah yang menyebabkan individu berlomba-lomba untuk memperoleh gelar sampai-sampai harus menggunakan jalan pintas dengan cara membeli gelar tersebut. Lalu bagaimana sebenarnya karakteristik para pembeli gelar tersebut jika dilihat dari kacamata psikologi. Tidakkah ada rasa malu dan tenggangrasa dari para pembeli gelar tersebut terhadap para individu yang benar-benar memperoleh gelar dengan cara menuntut ilmu dan mengikuti kaidah keilmuan yang berlaku? Apakah mereka mengalami suatu gangguan kepribadian? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin saya jawab dalam artikel ini.
Penyebab
Gelar adalah Lambang Status
Di sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung masih memiliki pola pikir feodalistik, gelar (degree) merupakan suatu kebanggaan luarbiasa dan sekaligus lambang status sosial pemiliknya di dalam masyarakat. Tidaklah mengherankan jika seseorang yang telah berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akan disambut oleh pihak keluarga bagaikan pahlawan yang baru kembali dari medan perang. Serangkaian upacara dan selamatan/syukuran dengan mengundang relasi atau bahkan orang sekampung dilakukan untuk menyambut sang sarjana/magister/doktor tersebut. Tidak sebatas itu saja, ucapan selamat pun mengalir dan dipamerkan di koran-koran atau majalah.
Tidak ada yang salah dengan tradisi tersebut diatas, asalkan memang sang penerima gelar benar-benar memperolehnya dengan cara yang layak. Sambutan maupun ucapan selamat merupakan suatu hal yang wajar dan pantas diterima sebab untuk memperoleh gelar yang asli memang ibarat memenangkan pertempuran. Bayangkan saja, berapa banyak peserta program S2 atau S3 yang harus berpisah dengan anggota keluarganya, tak jarang ia harus menggadaikan harta benda miliknya dan berjuang seorang diri demi memperoleh gelar dari sebuah universitas ternama di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu sangatlah wajar jika mereka menganggap bahwa gelar yang diperolehnya merupakan suatu prestise dan kebanggaan tersendiri karena dihasilkan melalui kerja keras dan ketekunan selama bertahun-tahun. Sayangnya jika tradisi seperti ini juga berlaku untuk penerima gelar palsu (gelar belian) maka esensi suatu gelar yang seharusnya lebih mengutamakan bobot ilmu dan karakter pribadi yang dimiliki oleh sang pemegang gelar tersebut, daripada sekedar ijazah atau nama gelar yang mentereng, menjadi luntur.
Mutu Pendidikan Nasional
Masyarakat sudah sangat paham dengan mutu pendidikan di negeri ini. Posisi SDM dan peringkat perguruan tinggi kita merosot amat rendah dibanding dengan negara-negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Oleh karena itu, bagi orang-orang berkantong tebal dan berpikir praktis mungkin akan timbul pemikiran untuk apa capek-capek meraih kesarjanaan formal yang hasilnya juga tidak membuat "lebih pintar", tidak siap kerja, lama selesainya, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak jauh berbeda dengan "sarjana yang dibeli". Orang-orang seperti inilah yang kemudian tanpa ragu dan malu, memejeng gelar palsu. Hal ini bisa terjadi karena masyakarat terkadang sulit membedakan mutu antara gelar sarjana sungguhan dengan gelar sarjana belian.
Tuntutan Dunia Kerja
Tuntutan dunia kerja yang lebih menggantungkan penilaian pada sertifikat, ijazah dan gelar juga semakin menguatkan pendapat bahwa ijazah dan gelar merupakan jaminan kesuksesan dalam berkarir. Tidaklah menjadi rahasia lagi bahwa di Instansi-instansi tertentu, ijazah dan gelar adalah modal utama untuk kenaikan pangkat dan penghargaan (terlepas dari apakah itu gelar formal atau palsu) dibandingkan dengan performa kerja pegawai. Oleh karena itu jangan heran jika para pejabat di instansi tersebut tiba-tiba beramai-ramai mengikuti program S2 atau S3 kelas jauh dari universitas tertentu dalam rangka untuk mendapat promosi jabatan.
Kepribadian Sang Individu
Adanya gangguan kepribadian tertentu yang dialami seseorang dapat menyebabkan individu tersebut tidak merasakan adanya suatu yang salah dengan perilaku membeli gelar. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kesempatan untuk meraih impian yang diinginkanya dengan cara tercepat dan termudah.
Kepribadian Narsisistik
Jika kita bertanya pada masing-masing individu maka saya yakin sebagian besar akan menjawab bahwa gelar "tidak bisa dibeli dengan uang". Gelar hanya dapat dibeli dengan ketekunan, kerja keras, kejujuran akademik, kematangan berpikir, kedewasaan, sikap pantang menyerah, berkutat dengan teori dan data, persisten, dan tidak ada jalan pintas. Tak ada gelar yang ditawarkan begitu saja. Proses seleksinya sangat ketat, bukan masuk tanpa test dan cukup mengisi formulir saja. Teman-teman yang telah melalui proses ini pasti merasakan betapa sulitnya menuntut ilmu dan memperoleh gelar akademik.
Meski semua orang tahu bahwa gelar merupakan suatu yang membanggakan dan lambang status sosial, namun banyak juga individu yang justru tidak mau tahu dengan gelar yang diperolehnya. Bagi individu semacam ini gelar atau ijazah tidak lebih dari sebatas tanda penghargaan dan pengakuan atas jasa atau hasil jerih payahnya selama menuntut ilmu sebagai persyaratan memperoleh gelar tersebut. Individu-individu seperti ini tidak silau dengan gelar, bahkan sedapat mungkin mereka tidak akan mencantumkan gelar di depan atau dibelakang namanya. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh merupakan segala-galanya. Oleh karena itu mereka lebih banyak memperlihatkan karya nyata di bidang keilmuannya dengan cara memberikan pemikiran-pemikiran baru dan berusaha membantu orang lain sesuai dengan kompetensinya daripada menonjolkan gelar tersebut.
Individu yang tidak silau dengan gelar seperti yang telah saya sebut diatas amat berbeda karakternya dengan mereka yang menganggap bahwa gelar adalah segala-galanya. Bagi individu seperti ini ijazah dan gelar adalah modal hidup sehingga harus diperoleh (apapun caranya) dan jika sudah didapat maka harus diketahui oleh semua orang. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak lagi merupakan suatu hal yang penting. Individu-individu jenis inilah yang dengan bangga memasang iklan-iklan ucapan selamat dengan space dan tulisan besar di koran-koran. Lucunya ucapan selamat tersebut seringkali justru datang dari dirinya sendiri. Artinya ucapan selamat tersebut jika ditelusuri lebih lanjut ternyata dikirim oleh perusahaan-perusahaan miliknya atau sanak keluarganya sendiri.
Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri si pembeli gelar yang tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah tersebut di depan orang lain. Apakah mereka mengalami gangguan kepribadian? Menurut pandangan saya, jika pembelian gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat dikatakan bahwa individu tersebut memang mengalami gangguan kepribadian. Namun demikian jika individu dipengaruhi oleh cara-cara yang tidak profesional atau dibohongi oleh para penyelenggara program gelar palsu maka tentu tidak adil jika dikatakan bahwa individu pembeli gelar tersebut mengalami gangguan kepribadian.
Untuk membedakan antara individu pembeli gelar karena dibohongi oleh pihak ketiga dengan individu yang dengan sadar memang ingin menempuh jalan pintas untuk memperoleh gelar demi ambisi pribadi dan mengabaikan rasa keadilan, maka saya mengajak pembaca untuk melihat salah satu karakteristik gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian yang dimaksud adalah Gangguan Kepribadian Narsisistik atau Narcissistic Personality Disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain (DSM-IV). Perasaan-perasaan tersebut mendorong mereka untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun juga.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Fourth Edition) individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5 (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai berikut:
1. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.
2. Percaya bahwa dirinya adalah spesial dan unik (believe that she or he is special and unique).
3. Dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati (is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, briliance, beauty, or ideal love).
4. Memiliki kebutuhan yang eksesif untuk dikagumi (requires excessive admiration).
5. Merasa layak untuk diperlakukan secara istimewa (has a sense of entitlement).
6. Kurang empathy (lacks of empathy: is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs of others).
7. Mengeksploitasi hubungan interpersonal (is interpersonally exploitative).
8. Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious of others or believes that others are envious of him or her).
9. Angkuh (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
Meskipun mungkin tidak semua ciri tersebut diatas dimiliki oleh para pembeli gelar namun setidaknya beberapa ciri sudah cukup menunjang adanya gangguan kepribadian tersebut. Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh individu-individu yang seringkali mengambil jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gelar, sebagai berikut:
Merasa Diri Paling Hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra / image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh "diri sendiri" dianggap bukan suatu hal yang aneh.
Fantasi Kesuksesan & Kepintaran
Pintar dan sukses adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka menganggap bahwa kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan) belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik yang seringkali dianggap sebagai simbol "kepintaran" seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk sekolah lagi. Hal ini membuat mereka memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).
Sangat Ingin dikagumi
Pada umumnya para pembeli gelar adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan "simbol-simbol" yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik. Obsesi untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman tersebut.
Kurang Empathy
Para pembeli gelar pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati para pemagang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah.
Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan
Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu keistimewaan yang layak mereka dapatkan.
Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik
Pada umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan mereka akan menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.
Kepercayaan Diri yang Semu
Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.
Tindakan
Dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul di masa mendatang sebagai akibat maraknya jual beli gelar, maka perlu diadakan tindakan-tindakan nyata agar negara ini tidak kebanjiran gelar yang hebat-hebat padahal isinya kosong. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
Individu
Segala keputusan dan tindakan yang akan dilakukan oleh individu sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu individu hendaknya menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk mencapai gelar kesarjanaan. Semua itu harus dicapai melalui tahapan-tahapan tertentu yang panjang. Jika anda memang tidak memiliki kapasitas sebagai seseorang yang layak untuk menyandang suatu gelar akademik (karena tidak pernah melalui tahapan yang dipersyaratkan) maka hendaklah tidak menipu diri dengan cara membeli gelar. Jika itu anda lakukan secara sadar maka hal tersebut adalah ibarat anda berjalan dengan menggunakan jubah raja yang kebesaran. Anda mungkin merasa diri hebat karena memakai jubah yang mahal dan bagus meskipun kedodoran. Tetapi jangan lupa bahwa orang lain pasti tahu bahwa jubah itu bukan untuk anda. Seandainya pun ada rekan atau relasi yang memuji atau menyanjung anda ketika menggunakan jubah tersebut, saya yakin bahwa orang tersebut tidak lebih dari seorang penjilat atau hanya mau berbasa-basi untuk menyenangkan anda. Inikah yang anda inginkan? Jika tidak maka raihlah gelar dengan cara-cara yang seharusnya.
Masyarakat
Masyarakat Indonesia memiliki peran penting terhadap maraknya jual beli gelar. Dalam hal ini masyarakat dapat dibagi dalam 4 (empat) kategori:
1. Akademik. Masyarakat akademik dapat mempelopori pemberantasan gelar palsu dengan cara meningkatkan mutu pendidikan (ilmu pengetahuan & pembentukan kepribadian) dan tidak semata-mata berorientasi pada materi. Hal ini mengimplikasikan bahwa para pendidik yang ada di perguruan tinggi benar-benar mereka yang telah diseleksi secara ketat dan memenuhi syarat sebagai pendidik. Selain itu Pembukaan program-program S2 & S3 kelas jauh hendaknya dipertimbakan secara cermat, bukan semata-mata demi kepentingan mengejar pendapatan.
2. Media Massa. Media massa dapat membantu upaya pemberantasan jual beli gelar dengan cara menolak menerbitkan iklan-iklan jual beli gelar yang dipasang oleh lembaga penjaja gelar palsu.
3. Perusahaan. Dalam dunia kerja atau industri cara-cara pemberantasan gelar palsu adalah dengan tidak mengutamakan ijazah & gelar sebagai dasar kenaikan pangkat atau pun penghargaan, tetapi lebih kepada kompetensi yang dimiliki dan kinerja. Selain itu ijazah atau pun gelar yang diperoleh hendaknya diperiksa dengan ketat sehingga gelar palsu tidak disamakan dengan gelar sungguhan. Tidak mempekerjakan karyawan yang membeli gelar atau memperoleh gelar secara instant merupakan langkah jitu yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah "diploma diseases".
4. Umum. Masyarakat umum dapat berperan dalam pemberantasan gelar palsu dengan cara tidak mempromosikan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada teman-teman atau pun keluarga, tidak memamerkan gelar yang diperoleh oleh anggota keluarga atau sanak saudara secara berlebihan seperti memasang ucapan selamat secara besar-besaran di surat kabar, melaporkan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada pihak berwenang, dll.
Pemerintah
Pemerintah dapat secara aktif melakukan tindan-tindakan baik preventif maupun kuratif untuk mencegah maraknya jual beli gelar palsu. Cara-cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah:
1. Pembuatan kurikulum pendidikan nasional yang lebih seimbang antara pembentukan karakter individu dan ilmu dan pengetahuan. Selain itu rencana strategi pendidikan hendaknya lebih berorientasi pada pengisian lapangan kerja daripada hanya berhenti sampai mendapat ijazah atau gelar saja. Dengan demikian maka setiap individu yang berhasil memperoleh gelar akan mendapatkan ilmu dan ketrampilan untuk bekerja di bidangnya. Dengan demikian masyarakat pasti akan dapat membedakan dan menghargai gelar yang diperoleh seseorang sehingga gelar palsu mungkin tidak laku lagi.
2. Menindak tegas penyelenggara-penyelenggara program S1 (sarjana), S2 (magister) dan S3 (doktor) yang menyimpang dari prosedur yang sebenarnya; seperti ketentuan jumlah SKS, tempat perkuliahan, proses belajar mengajar, dll.
3. Menghentikan praktek-praktek jual beli gelar yang diselenggarakan melalui studi jarak jauh yang banyak terjadi di kota-kota kabupaten maupun ibukota provinsi di Indonesia.
4. Menolak gelar-gelar yang diperoleh secara tidak pantas untuk keperluan kenaikan pangkat atau penghargaan di instansi-instansi pemerintah, sehingga para pejabat tidak berlomba-loma "mengambil" gelar.
Seandainya hal-hal tersebut diatas dapat kita laksanakan maka niscaya praktek jual beli gelar ini akan dapat dikurangi. Jika tidak maka bisa-bisa lembaga pendidikan formal kita dipenuhi oleh lembaga-lembaga penjual gelar dan setiap orang dapat memiliki gelar secara cepat. Jika sampai demikian yang terjadi, lalu apa artinya gelar itu.
Negara ini sudah terlalu lama berada dalam kondisi yang tidak sehat. Di berbagai sektor kita dapat melihat carut-marut penyelenggaraan negara kita ini. Relakah kita jika dalam dunia akademik, yang katanya menjadi ujung tombak untuk memajukan sumber daya manusia, dikotori oleh praktek-praktek jual beli gelar yang sangat memalukan dan merupakan pembodohan bangsa ini? Dan relakah kita jika negara ini dibanjiri oleh para doktor yang ternyata sebagian besar adalah doktor honoris causa dari universitas-universitas yang tidak jelas juntrungannya? Jika tidak rela, mari segera mengambil tindakan nyata.
Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/sosial.asp
Komentar-komentar tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor) sungguhan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan, seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat S1 harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi: 4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas, dsb. Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang akan bisa meraih gelar yang diingingkannya karena ia masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu, membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis. Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar akademik yang pantas. Membaca berbagai buku teori, melakukan penelitian, menguji hipotesis, mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk jenjang pendidikan S2 adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10 tahun. Lamanya waktu yang harus ditempuh tersebut , bagi orang dewasa apalagi jika kuliah sambil bekerja, bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu tidak jarang bahwa beberapa mahasiswa tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Kondisi tersebut amat berbeda dengan program S2 atau S3 yang ditawarkan banyak "lembaga pendidikan" model "instant" yang membuka program-program di hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir, memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya jutaan rupiah( contoh: Rp 5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan Rp 20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi dari pihak penyelenggara kapan ada "pertemuan" dan jadwal wisuda. Mahasiswa yang mengikuti program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan atau menyelesaikan beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang gelar. Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie Instant. Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah "jual beli gelar". Jual beli gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada seseorang yang telah berjasa dan memiliki prestasi luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan) pun tidak luput dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika suatu saat kita menemukan ternyata salah seorang rekan atau kenalan kita tiba-tiba sudah menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu dengan pasti orang tersebut tidak memiliki prestasi luar biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat.
Beberapa pertanyaan yang perlu kita kemukakan untuk menyikapi fenomena jual beli gelar ini diantaranya adalah faktor apakah yang menyebabkan individu berlomba-lomba untuk memperoleh gelar sampai-sampai harus menggunakan jalan pintas dengan cara membeli gelar tersebut. Lalu bagaimana sebenarnya karakteristik para pembeli gelar tersebut jika dilihat dari kacamata psikologi. Tidakkah ada rasa malu dan tenggangrasa dari para pembeli gelar tersebut terhadap para individu yang benar-benar memperoleh gelar dengan cara menuntut ilmu dan mengikuti kaidah keilmuan yang berlaku? Apakah mereka mengalami suatu gangguan kepribadian? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin saya jawab dalam artikel ini.
Penyebab
Gelar adalah Lambang Status
Di sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung masih memiliki pola pikir feodalistik, gelar (degree) merupakan suatu kebanggaan luarbiasa dan sekaligus lambang status sosial pemiliknya di dalam masyarakat. Tidaklah mengherankan jika seseorang yang telah berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akan disambut oleh pihak keluarga bagaikan pahlawan yang baru kembali dari medan perang. Serangkaian upacara dan selamatan/syukuran dengan mengundang relasi atau bahkan orang sekampung dilakukan untuk menyambut sang sarjana/magister/doktor tersebut. Tidak sebatas itu saja, ucapan selamat pun mengalir dan dipamerkan di koran-koran atau majalah.
Tidak ada yang salah dengan tradisi tersebut diatas, asalkan memang sang penerima gelar benar-benar memperolehnya dengan cara yang layak. Sambutan maupun ucapan selamat merupakan suatu hal yang wajar dan pantas diterima sebab untuk memperoleh gelar yang asli memang ibarat memenangkan pertempuran. Bayangkan saja, berapa banyak peserta program S2 atau S3 yang harus berpisah dengan anggota keluarganya, tak jarang ia harus menggadaikan harta benda miliknya dan berjuang seorang diri demi memperoleh gelar dari sebuah universitas ternama di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu sangatlah wajar jika mereka menganggap bahwa gelar yang diperolehnya merupakan suatu prestise dan kebanggaan tersendiri karena dihasilkan melalui kerja keras dan ketekunan selama bertahun-tahun. Sayangnya jika tradisi seperti ini juga berlaku untuk penerima gelar palsu (gelar belian) maka esensi suatu gelar yang seharusnya lebih mengutamakan bobot ilmu dan karakter pribadi yang dimiliki oleh sang pemegang gelar tersebut, daripada sekedar ijazah atau nama gelar yang mentereng, menjadi luntur.
Mutu Pendidikan Nasional
Masyarakat sudah sangat paham dengan mutu pendidikan di negeri ini. Posisi SDM dan peringkat perguruan tinggi kita merosot amat rendah dibanding dengan negara-negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Oleh karena itu, bagi orang-orang berkantong tebal dan berpikir praktis mungkin akan timbul pemikiran untuk apa capek-capek meraih kesarjanaan formal yang hasilnya juga tidak membuat "lebih pintar", tidak siap kerja, lama selesainya, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak jauh berbeda dengan "sarjana yang dibeli". Orang-orang seperti inilah yang kemudian tanpa ragu dan malu, memejeng gelar palsu. Hal ini bisa terjadi karena masyakarat terkadang sulit membedakan mutu antara gelar sarjana sungguhan dengan gelar sarjana belian.
Tuntutan Dunia Kerja
Tuntutan dunia kerja yang lebih menggantungkan penilaian pada sertifikat, ijazah dan gelar juga semakin menguatkan pendapat bahwa ijazah dan gelar merupakan jaminan kesuksesan dalam berkarir. Tidaklah menjadi rahasia lagi bahwa di Instansi-instansi tertentu, ijazah dan gelar adalah modal utama untuk kenaikan pangkat dan penghargaan (terlepas dari apakah itu gelar formal atau palsu) dibandingkan dengan performa kerja pegawai. Oleh karena itu jangan heran jika para pejabat di instansi tersebut tiba-tiba beramai-ramai mengikuti program S2 atau S3 kelas jauh dari universitas tertentu dalam rangka untuk mendapat promosi jabatan.
Kepribadian Sang Individu
Adanya gangguan kepribadian tertentu yang dialami seseorang dapat menyebabkan individu tersebut tidak merasakan adanya suatu yang salah dengan perilaku membeli gelar. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kesempatan untuk meraih impian yang diinginkanya dengan cara tercepat dan termudah.
Kepribadian Narsisistik
Jika kita bertanya pada masing-masing individu maka saya yakin sebagian besar akan menjawab bahwa gelar "tidak bisa dibeli dengan uang". Gelar hanya dapat dibeli dengan ketekunan, kerja keras, kejujuran akademik, kematangan berpikir, kedewasaan, sikap pantang menyerah, berkutat dengan teori dan data, persisten, dan tidak ada jalan pintas. Tak ada gelar yang ditawarkan begitu saja. Proses seleksinya sangat ketat, bukan masuk tanpa test dan cukup mengisi formulir saja. Teman-teman yang telah melalui proses ini pasti merasakan betapa sulitnya menuntut ilmu dan memperoleh gelar akademik.
Meski semua orang tahu bahwa gelar merupakan suatu yang membanggakan dan lambang status sosial, namun banyak juga individu yang justru tidak mau tahu dengan gelar yang diperolehnya. Bagi individu semacam ini gelar atau ijazah tidak lebih dari sebatas tanda penghargaan dan pengakuan atas jasa atau hasil jerih payahnya selama menuntut ilmu sebagai persyaratan memperoleh gelar tersebut. Individu-individu seperti ini tidak silau dengan gelar, bahkan sedapat mungkin mereka tidak akan mencantumkan gelar di depan atau dibelakang namanya. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh merupakan segala-galanya. Oleh karena itu mereka lebih banyak memperlihatkan karya nyata di bidang keilmuannya dengan cara memberikan pemikiran-pemikiran baru dan berusaha membantu orang lain sesuai dengan kompetensinya daripada menonjolkan gelar tersebut.
Individu yang tidak silau dengan gelar seperti yang telah saya sebut diatas amat berbeda karakternya dengan mereka yang menganggap bahwa gelar adalah segala-galanya. Bagi individu seperti ini ijazah dan gelar adalah modal hidup sehingga harus diperoleh (apapun caranya) dan jika sudah didapat maka harus diketahui oleh semua orang. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak lagi merupakan suatu hal yang penting. Individu-individu jenis inilah yang dengan bangga memasang iklan-iklan ucapan selamat dengan space dan tulisan besar di koran-koran. Lucunya ucapan selamat tersebut seringkali justru datang dari dirinya sendiri. Artinya ucapan selamat tersebut jika ditelusuri lebih lanjut ternyata dikirim oleh perusahaan-perusahaan miliknya atau sanak keluarganya sendiri.
Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri si pembeli gelar yang tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah tersebut di depan orang lain. Apakah mereka mengalami gangguan kepribadian? Menurut pandangan saya, jika pembelian gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat dikatakan bahwa individu tersebut memang mengalami gangguan kepribadian. Namun demikian jika individu dipengaruhi oleh cara-cara yang tidak profesional atau dibohongi oleh para penyelenggara program gelar palsu maka tentu tidak adil jika dikatakan bahwa individu pembeli gelar tersebut mengalami gangguan kepribadian.
Untuk membedakan antara individu pembeli gelar karena dibohongi oleh pihak ketiga dengan individu yang dengan sadar memang ingin menempuh jalan pintas untuk memperoleh gelar demi ambisi pribadi dan mengabaikan rasa keadilan, maka saya mengajak pembaca untuk melihat salah satu karakteristik gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian yang dimaksud adalah Gangguan Kepribadian Narsisistik atau Narcissistic Personality Disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain (DSM-IV). Perasaan-perasaan tersebut mendorong mereka untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun juga.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Fourth Edition) individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5 (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai berikut:
1. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.
2. Percaya bahwa dirinya adalah spesial dan unik (believe that she or he is special and unique).
3. Dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati (is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, briliance, beauty, or ideal love).
4. Memiliki kebutuhan yang eksesif untuk dikagumi (requires excessive admiration).
5. Merasa layak untuk diperlakukan secara istimewa (has a sense of entitlement).
6. Kurang empathy (lacks of empathy: is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs of others).
7. Mengeksploitasi hubungan interpersonal (is interpersonally exploitative).
8. Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious of others or believes that others are envious of him or her).
9. Angkuh (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
Meskipun mungkin tidak semua ciri tersebut diatas dimiliki oleh para pembeli gelar namun setidaknya beberapa ciri sudah cukup menunjang adanya gangguan kepribadian tersebut. Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh individu-individu yang seringkali mengambil jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gelar, sebagai berikut:
Merasa Diri Paling Hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra / image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh "diri sendiri" dianggap bukan suatu hal yang aneh.
Fantasi Kesuksesan & Kepintaran
Pintar dan sukses adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka menganggap bahwa kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan) belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik yang seringkali dianggap sebagai simbol "kepintaran" seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk sekolah lagi. Hal ini membuat mereka memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).
Sangat Ingin dikagumi
Pada umumnya para pembeli gelar adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan "simbol-simbol" yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik. Obsesi untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman tersebut.
Kurang Empathy
Para pembeli gelar pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati para pemagang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah.
Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan
Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu keistimewaan yang layak mereka dapatkan.
Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik
Pada umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan mereka akan menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.
Kepercayaan Diri yang Semu
Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.
Tindakan
Dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul di masa mendatang sebagai akibat maraknya jual beli gelar, maka perlu diadakan tindakan-tindakan nyata agar negara ini tidak kebanjiran gelar yang hebat-hebat padahal isinya kosong. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
Individu
Segala keputusan dan tindakan yang akan dilakukan oleh individu sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu individu hendaknya menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk mencapai gelar kesarjanaan. Semua itu harus dicapai melalui tahapan-tahapan tertentu yang panjang. Jika anda memang tidak memiliki kapasitas sebagai seseorang yang layak untuk menyandang suatu gelar akademik (karena tidak pernah melalui tahapan yang dipersyaratkan) maka hendaklah tidak menipu diri dengan cara membeli gelar. Jika itu anda lakukan secara sadar maka hal tersebut adalah ibarat anda berjalan dengan menggunakan jubah raja yang kebesaran. Anda mungkin merasa diri hebat karena memakai jubah yang mahal dan bagus meskipun kedodoran. Tetapi jangan lupa bahwa orang lain pasti tahu bahwa jubah itu bukan untuk anda. Seandainya pun ada rekan atau relasi yang memuji atau menyanjung anda ketika menggunakan jubah tersebut, saya yakin bahwa orang tersebut tidak lebih dari seorang penjilat atau hanya mau berbasa-basi untuk menyenangkan anda. Inikah yang anda inginkan? Jika tidak maka raihlah gelar dengan cara-cara yang seharusnya.
Masyarakat
Masyarakat Indonesia memiliki peran penting terhadap maraknya jual beli gelar. Dalam hal ini masyarakat dapat dibagi dalam 4 (empat) kategori:
1. Akademik. Masyarakat akademik dapat mempelopori pemberantasan gelar palsu dengan cara meningkatkan mutu pendidikan (ilmu pengetahuan & pembentukan kepribadian) dan tidak semata-mata berorientasi pada materi. Hal ini mengimplikasikan bahwa para pendidik yang ada di perguruan tinggi benar-benar mereka yang telah diseleksi secara ketat dan memenuhi syarat sebagai pendidik. Selain itu Pembukaan program-program S2 & S3 kelas jauh hendaknya dipertimbakan secara cermat, bukan semata-mata demi kepentingan mengejar pendapatan.
2. Media Massa. Media massa dapat membantu upaya pemberantasan jual beli gelar dengan cara menolak menerbitkan iklan-iklan jual beli gelar yang dipasang oleh lembaga penjaja gelar palsu.
3. Perusahaan. Dalam dunia kerja atau industri cara-cara pemberantasan gelar palsu adalah dengan tidak mengutamakan ijazah & gelar sebagai dasar kenaikan pangkat atau pun penghargaan, tetapi lebih kepada kompetensi yang dimiliki dan kinerja. Selain itu ijazah atau pun gelar yang diperoleh hendaknya diperiksa dengan ketat sehingga gelar palsu tidak disamakan dengan gelar sungguhan. Tidak mempekerjakan karyawan yang membeli gelar atau memperoleh gelar secara instant merupakan langkah jitu yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah "diploma diseases".
4. Umum. Masyarakat umum dapat berperan dalam pemberantasan gelar palsu dengan cara tidak mempromosikan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada teman-teman atau pun keluarga, tidak memamerkan gelar yang diperoleh oleh anggota keluarga atau sanak saudara secara berlebihan seperti memasang ucapan selamat secara besar-besaran di surat kabar, melaporkan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada pihak berwenang, dll.
Pemerintah
Pemerintah dapat secara aktif melakukan tindan-tindakan baik preventif maupun kuratif untuk mencegah maraknya jual beli gelar palsu. Cara-cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah:
1. Pembuatan kurikulum pendidikan nasional yang lebih seimbang antara pembentukan karakter individu dan ilmu dan pengetahuan. Selain itu rencana strategi pendidikan hendaknya lebih berorientasi pada pengisian lapangan kerja daripada hanya berhenti sampai mendapat ijazah atau gelar saja. Dengan demikian maka setiap individu yang berhasil memperoleh gelar akan mendapatkan ilmu dan ketrampilan untuk bekerja di bidangnya. Dengan demikian masyarakat pasti akan dapat membedakan dan menghargai gelar yang diperoleh seseorang sehingga gelar palsu mungkin tidak laku lagi.
2. Menindak tegas penyelenggara-penyelenggara program S1 (sarjana), S2 (magister) dan S3 (doktor) yang menyimpang dari prosedur yang sebenarnya; seperti ketentuan jumlah SKS, tempat perkuliahan, proses belajar mengajar, dll.
3. Menghentikan praktek-praktek jual beli gelar yang diselenggarakan melalui studi jarak jauh yang banyak terjadi di kota-kota kabupaten maupun ibukota provinsi di Indonesia.
4. Menolak gelar-gelar yang diperoleh secara tidak pantas untuk keperluan kenaikan pangkat atau penghargaan di instansi-instansi pemerintah, sehingga para pejabat tidak berlomba-loma "mengambil" gelar.
Seandainya hal-hal tersebut diatas dapat kita laksanakan maka niscaya praktek jual beli gelar ini akan dapat dikurangi. Jika tidak maka bisa-bisa lembaga pendidikan formal kita dipenuhi oleh lembaga-lembaga penjual gelar dan setiap orang dapat memiliki gelar secara cepat. Jika sampai demikian yang terjadi, lalu apa artinya gelar itu.
Negara ini sudah terlalu lama berada dalam kondisi yang tidak sehat. Di berbagai sektor kita dapat melihat carut-marut penyelenggaraan negara kita ini. Relakah kita jika dalam dunia akademik, yang katanya menjadi ujung tombak untuk memajukan sumber daya manusia, dikotori oleh praktek-praktek jual beli gelar yang sangat memalukan dan merupakan pembodohan bangsa ini? Dan relakah kita jika negara ini dibanjiri oleh para doktor yang ternyata sebagian besar adalah doktor honoris causa dari universitas-universitas yang tidak jelas juntrungannya? Jika tidak rela, mari segera mengambil tindakan nyata.
Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/sosial.asp
brainwash
Ancaman Brainwash
Situs Wikipedia menjelaskan brainwash itu adalah serangkaian proses yang sistematik yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok, dengan metode yang barangkali tidak etis atau manipulatif, untuk merayu pihak lain supaya berjuang mengegolkan keinginan tertentu walaupun harus dengan cara yang menghancurkan pihak yang di-brainwash itu. Dalam proses brainwash, aktivitas yang terjadi antara lain: mengontrol pikiran, mencuci otak, mengkonstruksi ulang pemahaman seseorang, merayu seseorang dengan agak memaksa, menginstall pikiran seseorang dengan ideologi, fakta atau data, dan penjelasan yang sangat intens.
Meski awalnya teknik ini dipakai di dunia militer atau politik dalam mempertahankan regime, tapi pada perjalanannya, wilayah aplikasinya meluas. Banyak temuan yang berhasil mengungkap bahwa di balik aksi kekerasan yang selama ini mengancam kita, misalnya aksi bom bunuh diri dan lain-lain, terdapat keberhasilan proses brainwash yang dilakukan seseorang kepada pihak lain.
Keberhasilan brainwash memang sifatnya tidak instant. Ada upaya sistematik dalam memformulasi cerita atau pemahaman baru dari sebuah kenyataan yang disuguhkan kepada orang dengan ciri-ciri internal (profil psikologis) tertentu sehinga sangat match antara pemicu eksternal dan penentu internal. Dilihat dari karakteristik eksternal yang umum, negara kita termasuk tempat yang tidak sulit-sulit amat untuk melakukan aksi brainwash kepada pemuda untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang banyak. Dari mulai bom bunuh diri, kerusuhan massal, sampai demo anarkis memprotes hasil Pilkada.
Karakteristik eksternal itu misalnya wajah ketidakadilan sosial, penindasan, kesenjangan ekonomi, taraf pendidikan rata-rata penduduk, rendahnya kepercayaan pada pemerintah, wilayah gerak yang sangat luas, perbedaan agama, suku, ras, dan lain-lain. Ini belum lagi ditambah dengan semakin sungkannya pemerintah kita dengan isu HAM dan demokrasi.
Ini semua perlu dijadikan catatan bagi pemuda, orangtua, dan pemerintah. Pemuda perlu mewaspadai berbagai perangkap brainwash. Orangtua juga perlu memonitor kiprah anaknya di luar. Demikian juga pemeritah yang perlu terus mengurangi alasan-alasan kenapa bangsa gue mudah di-brainwash untuk menyerang tanah airnya sendiri.
Mengenali Tabiat Brainwasher
Selain pertanda di muka, aktivitas brainwash juga bisa dikenali dari tabiat dan gelagat orang-orangnya. Yang pertama-tama dilakukan para brainwasher adalah membuldoser konstruksi jatidiri, pemahaman, dan hubungan sosial korbannya, seperti rumah tua yang dirobohkan untuk rencana pembangunan gedung baru.
Tentu ada banyak cara bagaimana proses pembuldoseran itu dilaksanakan. Misalnya antara lain dengan mengeksploitasi berbagai kelemahan, kesalahan, kebodohan, dan ketidakberdayaan korban atau hal-hal negatif lainnya. Misalnya saya ingin mem-brainwash orang dari alasan agama, maka yang akan saya lakukan adalah membuktikan betapa banyaknya dosa orang itu, betapa sesatnya dia, dan seterusnya. Dengan asumsi bahwa orang itu sudah sering nangis-nangis depan saya, meminta hidayah dari saya, atau pendeknya sudah powerlessfull, maka saya mulai melakukan penawaran, seperti ahli bangunan yang menawarkan rancangan konstruksinya ke calon klien.
Sebagai brainwasher, tentu saya tidak serta merta akan menyetujui apa maunya klien. Saya akan minta syarat. Syarat yang umum biasanya antara lain: taat secara penuh, always Yes, mau mengisolasikan diri agar hubungannya dengan orang lain terputus dan mulai mengontrol hidup orang itu. Misalnya saya membuatkan rencana, agenda, dan membekalinya dengan logika yang sesuai dengan kepentingan saya.
Untuk memastikan pembuldoseran itu sukses, saya perlu menciptakan kondisi hubungan yang manipulatif. Misalnya, kalau dia mempertanyakan sesuatu, segera akan saya katakan dia keras kepala. Tapi kalau diam saja, akan saya katakan tidak kreatif. Jika dia curhat, akan saya katakan cengeng. Tapi kalau tidak mau curhat, akan saya katakan menyimpan kemunafikan. Dan seterusnya dan seterusnya.
Setelah pembuldoseran dan rekonstruksi dipastikan sukses, barulah saya mulai menggunakan jurus terakhir, dengan memujinya sebagai orang kuat, hebat, dan sudah layak untuk berbuat sesuatu. Tentu saya sudah menyiapkan agenda mengenai apa yang pas dilakukan orang itu sebagai simbol kekuatan, kemuliaan, kesetiaan, kesucian, dan lain-lain.
Jika jurus terakhir ini meragukan saya, cara lain yang akan saya lakukan adalah memperpanjang masa kebingungan, frustasi, dan ketidakberdayaan korban hingga dia siap untuk marah terhadap keadaan. Ketika amarah sudah memuncak, tentu saya akan lebih mudah mengarahkan dia melakukan sesuatu demi kepentingan saya.
Meski dalam tulisan ini bisa dijelaskan secara simpel bagaimana proses brainwash itu berlangsung, tetapi dalam prakteknya tidak semua orang bisa melakukannya dengan sukses. Ada orang-orang tertentu yang sepertinya secara talenta dibekali skill yang bagus untuk mem-brainwash orang lain.
Terlepas alasan yang dipakai itu agama, sosial, atau apapun, tapi umumnya orang itu punya approach yang lembut, tahu siapa yang bisa, dan tahu apa yang perlu disembunyikan dan apa yang perlu dinyatakan. Selain itu, dia juga “pede” (percaya diri) untuk memimpinorang lain.
Siapa yang Paling Mudah Di-brainwash?
Siapakah yang paling mudah / berpotensi kena untuk di-brainwash? Dalam prakteknya, tentu tidak mudah untuk dijabarkan secara akurat dan definitif. Penjelasan di bawah ini hanya bisa dipakai petunjuk untuk mengantisipasi agar kita tidak mudah dijadikan incaran praktek brainwash untuk melakukan aksi brutal.
Jika mengacu ke istilah dalam psikologi, yang berpotensi kena di-brainwash adalah orang yang disebutnya dengan istilah mengalami mental illness, yang terjemahan kasarnya adalah penderita penyakit mental. Istilah ini memang agak sulit ditemukan definisinya yang pas dan bisa diterima di semua standar sosial dengan kriteria yang utuh. Secara umum, kita bisa menyebutnya abnormal.
Yang termasuk mudah terkena lagi adalah orang dengan kepribadian bermasalah (personality disorder). Bentuknya antara lain:
1. Kemampuannya sangat rendah untuk mengatasi masalah secara baik, masa bodoh dengan akibat perilakunya, atau suka melakukan kenekatan yang gila
2. Mudah meledak pada tingkatan yang sangat membahayakan (explosive)
3. Diam-diam tapi menyimpan gejolak yang membayakan (passive-aggressive)
4. Kaku, menyimpan dendam, dan sempit, dengan tuntutan yang kuat agar orang lain dan dunia ini harus berjalan sesuai ego-nya
5. Punya masalah hubungan sosial, isolasi diri, sulit menerima perbedaan, atau toleransinya rendah
6. Lainnya lagi adalah orang dengan tingkat protes atau sikap pemberontakan yang tinggi namun dalam taraf yang tidak sehat (patologis), ketahanan mentalnya rendah, mudah putus asa yang membuat dia sering berpikir “mati saja”.
Bila semua karakteristik di atas mendapatkan jodoh dari faktor eksternal yang sangat memicu, apinya gampang tersulut. Misalnya, merasa pernah diperlakukan tidak adil, hidupnya semakin susah, nothing to lose, jarang bertemu dengan orang / kelompok yang mencerahkan jiwanya atau mengembangkan kapasitasnya.
Akan lebih sempurna ledakannya apabila didukung dengan pendidikan yang rendah, status sosial yang termarjinalkan, dan makin banyaknya khutbah atau ceramah yang mengajak massa untuk marah kepada kenyataan tanpa diiringi dengan saran-saran yang bijak untuk menyikapi kenyataan secara kuat dengan logika yang didukung otak.
Supaya Tidak Mudah Terkena Brainwash
Apa ada orang yang kebal terhadap brainwash orang lain? Di teorinya, kita bisa menjawabnya secara hitam-putih. Tapi, dalam prakteknya, ini tidak jelas. Artinya, semua orang dapat berpotensi kena brainwash, terlepas ada yang mudah atau ada yang sulit.
Supaya kita tidak mudah terkena brainwash orang lain yang mengajak kita melakukan aksi pengrusakan yang nekat, latihan yang perlu kita lakukan antara lain:
Pertama, sebelum perasaan atau reaksi, berpedomanlah pada nilai-nilai personal, sosial atau universal yang sudah ditanam sejak kecil. Kita perlu berlatih untuk menjadikan ajaran, prinsip, atau nilai-nilai sebagai penggerak tindakan. Jangan melulu menuruti perasaan reaktif, pemahaman benar sendiri, atau kepentingan pribadi atau kelompok, meski ini terkadang tetap harus kita lakukan sebagai bukti bahwa kita bukan robot.
Kedua, berlatih menjadi orang yang toleran dan fleksibel. Tak berarti kalau kita keras dan anti toleransi itu kuat. Seringkali malah mudah patah ketika dihadapkan pada problem atau kenyataan. Kalau tidak patah, kita bisa membabi buta. Misalnya kita keras terhadap pemahaman keagamaan tertentu. Jika kerasnya itu melebihi batas, mungkin kita malah akan melanggar nilai-nilai agama. Supaya kita bisa toleran dan fleksibel, latihannya adalah memperluas dan mem-variatifkan pergaulan agar gesekan terjadi.
Ketiga, terbuka, tidak pernah fanatik terhadap pemikiran, konsep, sistem, atau paradigma berpikir yang lahir dari proses kreatif manusia. Kita hanya perlu fanatik pada nilai etika universal, semacam kejujuran, tanggungjawab, dan semisalnya, yang jumlahnya sedikit. Hasil proses kreatif manusia itu perlu kita gunakan sebagai referensi atau alat yang kita pilih untuk menghadapi keadaan tertentu yang bisa berubah kapan saja.
Banyak aksi kekerasan yang berlatar belakang paham agama karena pelakunya gagal membedakan mana yang wahyu dan mana yang hasil “proses kreatif” pemimpin agamanya. Fanatik terhadap konsep manajemen profesor anu, malah membuat kita tidak bernilai manajemen. Fanatik terhadap sistem demokrasi malah membuat kita tidak bernilai demokrasi. Fanatisme yang salah membuat kita sengsara sendiri.
Keempat, memperkuat logika hidup, dalam arti gunakan otak secara kritis dan analitis. Ini hanya bisa dilatih ketika kita semakin tersambung hubungan kita dengan diri sendiri, misalnya kita tahu apa tujuan kita, jalur hidup kita, nilai-nilai kita, orang yang pas untuk kita, apa yang kita perjuangkan, masalah kita, dan seterusnya. Jika kita blank terhadap diri sendiri, logika hidup kita gampang jebol atau gampang larut.
Kelima, berani mengatakan “TIDAK” pada ajakan, himbauan, saran, nasehat, pendekatan yang oleh akal sehat kita aneh, yang ciri-cirinya sudah kita singgung di muka.
Ciri Brainwash Yang Baik
Meski di berbagai literatur sudah dikatakan dengan jelas bahwa brainwash itu menggunakan teknik yang kurang etis dan manipulatif, tetapi mungkin dalam prakteknya ada yang bisa kita sebut brainwash, namun tetap etis dan tidak manipulatif. Sebut saja ini bahasa sosial yang keliru. Ciri fundamental yang dapat kita pedomani antara lain:
• Jika itu mengedukasi kita. Edukasi berarti membuat kita menjadi diri sendiri dalam bentuk dan kualitas yang lebih bagus, bukan menghancurkan diri kita atau menjadikan kita sebagai korban ego-nya.
• Jika itu menolang kita, dengan motif yang memang untuk menolong, misalnya membantu kita dari jeratan narkoba. Bila orang itu memanipulasi motifnya, manfaatkan saja pertolongannya atau Anda menolak pertolongannya
• Jika itu mengembangkan kapasitas positif kita, misalnya ilmu, network, pengalaman, wawasan, pemahaman, dan seterusnya. Banyak ceramah agama, orasi sosial, atau kampanye politik yang hanya mengajak kita marah terhadap kenyataan, namun dianya sendiri tidak sedikit pun mau berkorban mengembangkan kapasitas positif kita. Kalau kita mengikutinya, kita sendiri yang salah. Anggap saja itu jualan atau bualan.
• Jika itu mengajak kita mentaati perintah Tuhan, prinsip, atau nilai-nilai yang kebenarannya diterima akal sehat seluruh dunia, bukan mengajak kita mengikuti ego, nafsu, ambisi pribadinya.
Sumber Ubaydillah, AN 2010
Situs Wikipedia menjelaskan brainwash itu adalah serangkaian proses yang sistematik yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok, dengan metode yang barangkali tidak etis atau manipulatif, untuk merayu pihak lain supaya berjuang mengegolkan keinginan tertentu walaupun harus dengan cara yang menghancurkan pihak yang di-brainwash itu. Dalam proses brainwash, aktivitas yang terjadi antara lain: mengontrol pikiran, mencuci otak, mengkonstruksi ulang pemahaman seseorang, merayu seseorang dengan agak memaksa, menginstall pikiran seseorang dengan ideologi, fakta atau data, dan penjelasan yang sangat intens.
Meski awalnya teknik ini dipakai di dunia militer atau politik dalam mempertahankan regime, tapi pada perjalanannya, wilayah aplikasinya meluas. Banyak temuan yang berhasil mengungkap bahwa di balik aksi kekerasan yang selama ini mengancam kita, misalnya aksi bom bunuh diri dan lain-lain, terdapat keberhasilan proses brainwash yang dilakukan seseorang kepada pihak lain.
Keberhasilan brainwash memang sifatnya tidak instant. Ada upaya sistematik dalam memformulasi cerita atau pemahaman baru dari sebuah kenyataan yang disuguhkan kepada orang dengan ciri-ciri internal (profil psikologis) tertentu sehinga sangat match antara pemicu eksternal dan penentu internal. Dilihat dari karakteristik eksternal yang umum, negara kita termasuk tempat yang tidak sulit-sulit amat untuk melakukan aksi brainwash kepada pemuda untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang banyak. Dari mulai bom bunuh diri, kerusuhan massal, sampai demo anarkis memprotes hasil Pilkada.
Karakteristik eksternal itu misalnya wajah ketidakadilan sosial, penindasan, kesenjangan ekonomi, taraf pendidikan rata-rata penduduk, rendahnya kepercayaan pada pemerintah, wilayah gerak yang sangat luas, perbedaan agama, suku, ras, dan lain-lain. Ini belum lagi ditambah dengan semakin sungkannya pemerintah kita dengan isu HAM dan demokrasi.
Ini semua perlu dijadikan catatan bagi pemuda, orangtua, dan pemerintah. Pemuda perlu mewaspadai berbagai perangkap brainwash. Orangtua juga perlu memonitor kiprah anaknya di luar. Demikian juga pemeritah yang perlu terus mengurangi alasan-alasan kenapa bangsa gue mudah di-brainwash untuk menyerang tanah airnya sendiri.
Mengenali Tabiat Brainwasher
Selain pertanda di muka, aktivitas brainwash juga bisa dikenali dari tabiat dan gelagat orang-orangnya. Yang pertama-tama dilakukan para brainwasher adalah membuldoser konstruksi jatidiri, pemahaman, dan hubungan sosial korbannya, seperti rumah tua yang dirobohkan untuk rencana pembangunan gedung baru.
Tentu ada banyak cara bagaimana proses pembuldoseran itu dilaksanakan. Misalnya antara lain dengan mengeksploitasi berbagai kelemahan, kesalahan, kebodohan, dan ketidakberdayaan korban atau hal-hal negatif lainnya. Misalnya saya ingin mem-brainwash orang dari alasan agama, maka yang akan saya lakukan adalah membuktikan betapa banyaknya dosa orang itu, betapa sesatnya dia, dan seterusnya. Dengan asumsi bahwa orang itu sudah sering nangis-nangis depan saya, meminta hidayah dari saya, atau pendeknya sudah powerlessfull, maka saya mulai melakukan penawaran, seperti ahli bangunan yang menawarkan rancangan konstruksinya ke calon klien.
Sebagai brainwasher, tentu saya tidak serta merta akan menyetujui apa maunya klien. Saya akan minta syarat. Syarat yang umum biasanya antara lain: taat secara penuh, always Yes, mau mengisolasikan diri agar hubungannya dengan orang lain terputus dan mulai mengontrol hidup orang itu. Misalnya saya membuatkan rencana, agenda, dan membekalinya dengan logika yang sesuai dengan kepentingan saya.
Untuk memastikan pembuldoseran itu sukses, saya perlu menciptakan kondisi hubungan yang manipulatif. Misalnya, kalau dia mempertanyakan sesuatu, segera akan saya katakan dia keras kepala. Tapi kalau diam saja, akan saya katakan tidak kreatif. Jika dia curhat, akan saya katakan cengeng. Tapi kalau tidak mau curhat, akan saya katakan menyimpan kemunafikan. Dan seterusnya dan seterusnya.
Setelah pembuldoseran dan rekonstruksi dipastikan sukses, barulah saya mulai menggunakan jurus terakhir, dengan memujinya sebagai orang kuat, hebat, dan sudah layak untuk berbuat sesuatu. Tentu saya sudah menyiapkan agenda mengenai apa yang pas dilakukan orang itu sebagai simbol kekuatan, kemuliaan, kesetiaan, kesucian, dan lain-lain.
Jika jurus terakhir ini meragukan saya, cara lain yang akan saya lakukan adalah memperpanjang masa kebingungan, frustasi, dan ketidakberdayaan korban hingga dia siap untuk marah terhadap keadaan. Ketika amarah sudah memuncak, tentu saya akan lebih mudah mengarahkan dia melakukan sesuatu demi kepentingan saya.
Meski dalam tulisan ini bisa dijelaskan secara simpel bagaimana proses brainwash itu berlangsung, tetapi dalam prakteknya tidak semua orang bisa melakukannya dengan sukses. Ada orang-orang tertentu yang sepertinya secara talenta dibekali skill yang bagus untuk mem-brainwash orang lain.
Terlepas alasan yang dipakai itu agama, sosial, atau apapun, tapi umumnya orang itu punya approach yang lembut, tahu siapa yang bisa, dan tahu apa yang perlu disembunyikan dan apa yang perlu dinyatakan. Selain itu, dia juga “pede” (percaya diri) untuk memimpinorang lain.
Siapa yang Paling Mudah Di-brainwash?
Siapakah yang paling mudah / berpotensi kena untuk di-brainwash? Dalam prakteknya, tentu tidak mudah untuk dijabarkan secara akurat dan definitif. Penjelasan di bawah ini hanya bisa dipakai petunjuk untuk mengantisipasi agar kita tidak mudah dijadikan incaran praktek brainwash untuk melakukan aksi brutal.
Jika mengacu ke istilah dalam psikologi, yang berpotensi kena di-brainwash adalah orang yang disebutnya dengan istilah mengalami mental illness, yang terjemahan kasarnya adalah penderita penyakit mental. Istilah ini memang agak sulit ditemukan definisinya yang pas dan bisa diterima di semua standar sosial dengan kriteria yang utuh. Secara umum, kita bisa menyebutnya abnormal.
Yang termasuk mudah terkena lagi adalah orang dengan kepribadian bermasalah (personality disorder). Bentuknya antara lain:
1. Kemampuannya sangat rendah untuk mengatasi masalah secara baik, masa bodoh dengan akibat perilakunya, atau suka melakukan kenekatan yang gila
2. Mudah meledak pada tingkatan yang sangat membahayakan (explosive)
3. Diam-diam tapi menyimpan gejolak yang membayakan (passive-aggressive)
4. Kaku, menyimpan dendam, dan sempit, dengan tuntutan yang kuat agar orang lain dan dunia ini harus berjalan sesuai ego-nya
5. Punya masalah hubungan sosial, isolasi diri, sulit menerima perbedaan, atau toleransinya rendah
6. Lainnya lagi adalah orang dengan tingkat protes atau sikap pemberontakan yang tinggi namun dalam taraf yang tidak sehat (patologis), ketahanan mentalnya rendah, mudah putus asa yang membuat dia sering berpikir “mati saja”.
Bila semua karakteristik di atas mendapatkan jodoh dari faktor eksternal yang sangat memicu, apinya gampang tersulut. Misalnya, merasa pernah diperlakukan tidak adil, hidupnya semakin susah, nothing to lose, jarang bertemu dengan orang / kelompok yang mencerahkan jiwanya atau mengembangkan kapasitasnya.
Akan lebih sempurna ledakannya apabila didukung dengan pendidikan yang rendah, status sosial yang termarjinalkan, dan makin banyaknya khutbah atau ceramah yang mengajak massa untuk marah kepada kenyataan tanpa diiringi dengan saran-saran yang bijak untuk menyikapi kenyataan secara kuat dengan logika yang didukung otak.
Supaya Tidak Mudah Terkena Brainwash
Apa ada orang yang kebal terhadap brainwash orang lain? Di teorinya, kita bisa menjawabnya secara hitam-putih. Tapi, dalam prakteknya, ini tidak jelas. Artinya, semua orang dapat berpotensi kena brainwash, terlepas ada yang mudah atau ada yang sulit.
Supaya kita tidak mudah terkena brainwash orang lain yang mengajak kita melakukan aksi pengrusakan yang nekat, latihan yang perlu kita lakukan antara lain:
Pertama, sebelum perasaan atau reaksi, berpedomanlah pada nilai-nilai personal, sosial atau universal yang sudah ditanam sejak kecil. Kita perlu berlatih untuk menjadikan ajaran, prinsip, atau nilai-nilai sebagai penggerak tindakan. Jangan melulu menuruti perasaan reaktif, pemahaman benar sendiri, atau kepentingan pribadi atau kelompok, meski ini terkadang tetap harus kita lakukan sebagai bukti bahwa kita bukan robot.
Kedua, berlatih menjadi orang yang toleran dan fleksibel. Tak berarti kalau kita keras dan anti toleransi itu kuat. Seringkali malah mudah patah ketika dihadapkan pada problem atau kenyataan. Kalau tidak patah, kita bisa membabi buta. Misalnya kita keras terhadap pemahaman keagamaan tertentu. Jika kerasnya itu melebihi batas, mungkin kita malah akan melanggar nilai-nilai agama. Supaya kita bisa toleran dan fleksibel, latihannya adalah memperluas dan mem-variatifkan pergaulan agar gesekan terjadi.
Ketiga, terbuka, tidak pernah fanatik terhadap pemikiran, konsep, sistem, atau paradigma berpikir yang lahir dari proses kreatif manusia. Kita hanya perlu fanatik pada nilai etika universal, semacam kejujuran, tanggungjawab, dan semisalnya, yang jumlahnya sedikit. Hasil proses kreatif manusia itu perlu kita gunakan sebagai referensi atau alat yang kita pilih untuk menghadapi keadaan tertentu yang bisa berubah kapan saja.
Banyak aksi kekerasan yang berlatar belakang paham agama karena pelakunya gagal membedakan mana yang wahyu dan mana yang hasil “proses kreatif” pemimpin agamanya. Fanatik terhadap konsep manajemen profesor anu, malah membuat kita tidak bernilai manajemen. Fanatik terhadap sistem demokrasi malah membuat kita tidak bernilai demokrasi. Fanatisme yang salah membuat kita sengsara sendiri.
Keempat, memperkuat logika hidup, dalam arti gunakan otak secara kritis dan analitis. Ini hanya bisa dilatih ketika kita semakin tersambung hubungan kita dengan diri sendiri, misalnya kita tahu apa tujuan kita, jalur hidup kita, nilai-nilai kita, orang yang pas untuk kita, apa yang kita perjuangkan, masalah kita, dan seterusnya. Jika kita blank terhadap diri sendiri, logika hidup kita gampang jebol atau gampang larut.
Kelima, berani mengatakan “TIDAK” pada ajakan, himbauan, saran, nasehat, pendekatan yang oleh akal sehat kita aneh, yang ciri-cirinya sudah kita singgung di muka.
Ciri Brainwash Yang Baik
Meski di berbagai literatur sudah dikatakan dengan jelas bahwa brainwash itu menggunakan teknik yang kurang etis dan manipulatif, tetapi mungkin dalam prakteknya ada yang bisa kita sebut brainwash, namun tetap etis dan tidak manipulatif. Sebut saja ini bahasa sosial yang keliru. Ciri fundamental yang dapat kita pedomani antara lain:
• Jika itu mengedukasi kita. Edukasi berarti membuat kita menjadi diri sendiri dalam bentuk dan kualitas yang lebih bagus, bukan menghancurkan diri kita atau menjadikan kita sebagai korban ego-nya.
• Jika itu menolang kita, dengan motif yang memang untuk menolong, misalnya membantu kita dari jeratan narkoba. Bila orang itu memanipulasi motifnya, manfaatkan saja pertolongannya atau Anda menolak pertolongannya
• Jika itu mengembangkan kapasitas positif kita, misalnya ilmu, network, pengalaman, wawasan, pemahaman, dan seterusnya. Banyak ceramah agama, orasi sosial, atau kampanye politik yang hanya mengajak kita marah terhadap kenyataan, namun dianya sendiri tidak sedikit pun mau berkorban mengembangkan kapasitas positif kita. Kalau kita mengikutinya, kita sendiri yang salah. Anggap saja itu jualan atau bualan.
• Jika itu mengajak kita mentaati perintah Tuhan, prinsip, atau nilai-nilai yang kebenarannya diterima akal sehat seluruh dunia, bukan mengajak kita mengikuti ego, nafsu, ambisi pribadinya.
Sumber Ubaydillah, AN 2010
mood
Keunikan Mood
Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnya, istilah mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi (state of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya saja, kita tahu-tahu merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari bukunya Philip G. Zimbardo (Psychology and Life: 1979) tentang mood. Mood adalah keadaan emosi tertentu yang tidak masuk dalam kategori state (emosi yang dipicu oleh faktor eksternal tertentu) atau trait (bentuk emosi yang menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood bisa berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap mempengaruhi gairahnya untuk melakukan sesuatu atau bahkan bisa mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh itu tidak menyangkut ke urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang biasa. Namanya juga orang hidup. Alam saja punya musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting, maka sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian tertentu. Jika gairah kita lebih sering dikendalikan oleh perubahan mood, mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita raih lebih cepat, jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood itu sering kita alami sudah menyangkut ke urusan dengan orang lain atau organisasi. Misalnya kita tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood. Kita mengubah haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood; atau kita mengambil keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal mood. Gampangnya ngomong, kita sudah menjadi orang yang mut-mutan sehingga sulit dipegang.
Ubaydillah, AN 2010
Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnya, istilah mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi (state of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya saja, kita tahu-tahu merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari bukunya Philip G. Zimbardo (Psychology and Life: 1979) tentang mood. Mood adalah keadaan emosi tertentu yang tidak masuk dalam kategori state (emosi yang dipicu oleh faktor eksternal tertentu) atau trait (bentuk emosi yang menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood bisa berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap mempengaruhi gairahnya untuk melakukan sesuatu atau bahkan bisa mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh itu tidak menyangkut ke urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang biasa. Namanya juga orang hidup. Alam saja punya musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting, maka sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian tertentu. Jika gairah kita lebih sering dikendalikan oleh perubahan mood, mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita raih lebih cepat, jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood itu sering kita alami sudah menyangkut ke urusan dengan orang lain atau organisasi. Misalnya kita tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood. Kita mengubah haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood; atau kita mengambil keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal mood. Gampangnya ngomong, kita sudah menjadi orang yang mut-mutan sehingga sulit dipegang.
Ubaydillah, AN 2010
Langganan:
Postingan (Atom)