Senin, 28 Maret 2011

Menghangatkan Percakapan

ALASAN & PENGERTIAN

Kita semua pernah melakukan percakapan. Yang perlu kita cek ulang adalah nilai tambah yang dihasilkan dari percakapan itu atau meningkatkan bobotnya. Percakapan adalah dialog informal yang melibatkan dua orang atau lebih. Percakapan ini bermacam-macam. Ada percakapan yang tidak didasari oleh tujuan tertentu. Ini misalnya saja kita kebetulan bertemu orang di tempat-tempat umum lalu terjadi percakapan yang saling meng-asyik-kan.

Ada juga percakapan yang memang sejak awal sudah dilandasi oleh tujuan-tujuan tertentu. Ini misalnya saja kita bertamu ke seseorang di kantornya untuk menjajaki kemungkinan melakukan kerjasama, kemungkinan adanya lowongan, kemungkinan adanya sesuatu yang bisa kita garap, dan lain-lain. Percakapan seperti ini biasanya sudah terarah dan biasanya ada etika-etika tertentu yang perlu diperhatikan. Kalau kita mengunjungi orang tanpa memperhatikan waktu dan tempat, ini bisa melanggar etika. Kita bakal dijadikan tamu yang tidak diundang.

Tentu ada banyak alasan kenapa kita perlu sekali-kali menganggap percakapan itu sebagai hal yang penting. Selain karena alasan sosial (makhluk sosial), kita pun sudah kerap menjumpai bukti-bukti dimana ada orang yang mendapatkan keinginannya dari percakapan. Ada orang yang mendapatkan jodah, mendapatkan tender, atau mendapatkan peluang dari percakapan yang ringan-ringan. Ini contoh-contoh yang mudah kita temukan.

Selain karena alasan seperti itu, ada lagi alasan yang ingin saya kemukakan di sini. Ini antara lain misalnya saja:

Pertama, mendapatkan inspirasi dan kesadaran baru (altered state of consciousness). Seperti yang sudah sering kita alami bahwa dorongan untuk melakukan perubahan / perbaikan-diri itu terkadang tinggi dan terkadang rendah, terkadang naik dan terkadang turun. Supaya kita mendapatkan energi baru dan kesadaran baru, terkadang butuh insight baru, butuh contoh baru, butuh bukti baru, butuk pengalaman baru.

Nah, bercakap-cakap dengan orang lain sangat mungkin kita gunakan untuk itu. Kalau dilihat dari cara kerja otak, bercakap-cakap dapat menstimulir otak. Menurut studi, semakin banyak stimulus baru yang kita temukan, semakin banyak pula koneksi yang terbentuk di otak kita. Semakin banyak koneksi yang terbentuk, semakin aktif otak kita ketika diajak berpikir. Otak yang sedikit koneksinya (karena jarang distimulasi), bisa membuatnya mudah tidur. Ini membuat orang malas-malasan, tidak bergairah, kurang motivasi, dan lain-lain.

Kedua, menemukan cara baru dalam melakukan sesuatu (new way of doing thing). Kita tahu bahwa cara itu menentukan hasil. Kata Covey, jangan mengharapkan hasil yang berbeda kalau anda menggunakan cara yang sama untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, cara juga menentukan kemampuan. Tidak selamanya orang yang tidak sanggup melakukan sesuatu itu karena tidak mampu atau tidak punya kemampuan. Seringkali yang terjadi adalah karena belum menemukan / mengetahui cara. Begitu caranya sudah ditemukan, kemampuannya lantas muncul.

Nah, bercakap-cakap dengan orang sangat mungkin kita gunakan untuk mengeksplorasi berbagai cara. Ini misalnya: cara mempelajari sesuatu yang baru, cara mengatasi masalah yang baru, cara melakukan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang lebih (additional value), dan lain-lain. Bisa dikatakan di sini bahwa bercakap-cakap dapat merangsang kreativitas.

Ketiga, meningkatkan kemampuan dalam menghadapi orang atau dalam berinteraksi dengan orang. Ini termasuk antara lain misalnya: bagaimana kita bisa pede menghadapi orang, bagaimana kita punya standing yang bagus ketika berhadapan dengan orang, apa yang perlu kita hindari saat menghadapi orang, apa yang kurang dari kita saat berbicara dengan orang, dan lain-lain.

Itu semua adalah hal-hal yang hanya bisa kita peroleh dari praktek langsung. Kita tahu bahwa kemampuan interpersonal itu tidak semuanya terkait dengan pengetahuan (knowledge). Bahkan lebih sering terkait dengan seni (the art), olah-perasaan. Karena itu, kita tidak mungkin bisa lihai dalam menghadapi orang dengan hanya membaca buku tentang bagaimana mempengaruhi orang sebanyak seratus kali. Kita akan lihai ketika kita sudah sering praktek. Praktek akan menyempurnakan sesuatu yang kurang.


KAIDAH UMUM DALAM PERCAKAPAN

Secara umum, terlepas apakah percakapan itu dilandasi tujuan atau tidak, ada beberapa petunjuk yang bisa kita gunakan untuk menghangatkan percakapan. Ini antara lain adalah:

Pertama, beri tanggapan langsung. Jika kita ditanya seputar diri kita atau ditanya tentang apa saja oleh mitra-bicara kita, beri jawaban secepat mungkin. Kalau kita kurang jelas, mintalah penjelasan. Kalau kita tidak tahu, katakan secepatnya kita tidak tahu. Memberi jawaban langsung menunjukkan kita memang benar-benar terlibat dalam percakapan; kita menaruh perhatian pada isi percakapan. Bagi mitra kita, jawaban yang langsung ini punya arti tersendiri. Mitra kita akan merasa diperlakukan sebagai mitra-bicara yang berarti.

Kedua, harus relevan. Usahakan jawaban yang kita berikan atau pernyataan yang kita lontarkan itu relevan dengan isi percakapan. Jauhi ucapan atau jawaban yang ngalor-ngidul atau tidak jelas arahnya dan bertele-tele. Ini selain membuat mitra kita bosan, pun juga akan menciptakan kesan yang tidak baik atau kurang intelek. Agar jawaban kita relevan, tentu kita perlu connect dengan mitra bicara.

Ketiga, selingi bumbu-bumbu humor. Humor sangat penting. Tapi, usahakan jangan humor yang tidak berbobot atau humor yang ke-kanak-kanakan. Humor yang tepat akan menghangatkan suasana percakapan. Untuk mendapatkan humor yang ringan tetapi menghangatkan, perbanyak membaca informasi, membaca koran, mendengarkan informasi, mendengarkan isu-isu umum, dan lain-lain. Jika kita melakukan percakapan pada bulan Juli dan kebetulan isu yang sangat nasional pada bulan itu adalah jatuhnya pesawat, ya usahakan kita tahu isu-isu pokok yang berkembang seputar berita itu.

Keempat, gunakan bahasa atau kalimat yang kira-kira artinya tidak menimbulkan salah tafsir, tafsiran ganda, atau tafsiran yang kurang enak dirasakan. Apalagi jika sampai menyingung soal RAS. Dan juga, perhatikan penggunaan kata menurut konteks-nya. Ini untuk kepentingan menghangatkan suasana. Sebagai contoh misalnya kata Anda. Kata Anda memang artinya adalah orang kedua langsung, mirip seperti kamu, bapak, ibu, mbak, mas, atau saudara, sampeyan, dan lain-lain.

Meski artinya sama atau mirip sama, tapi rasanya terkadang berbeda untuk situasi yang berbeda dan untuk konteks yang berbeda. Kata Anda bisa mengandung rasa pertemanan atau keakraban, namun bisa pula mengandung rasa seperti adanya jarak yang jauh, formal, atau ketidaksepadanan.

Kelima, memberi dan menerima kesempatan untuk bicara. Jangan menguasai kesempatan berbicara tetapi jangan juga terlalu pasif, terlalu diam, terlalu serius mendengarkan, dan semisalnya. Untuk bisa memberi dan menerima ini, lakukan dua hal, yaitu: a) mengajukan pertanyaan dan b) mendengarkan jawaban. Jika kita yang ditanya terus, ini kurang menghangatkan suasana. Begitu juga kalau kita terus yang menjadi pendengar. Inipun kurang bisa menghangatkan.

Keenam, harus efisien. Katakan apa saja yang memang perlu untuk dikatakan. Jangan mengatakan seluruh yang kita tahu tetapi juga jangan menyembunyikan seluruhnya. Katakan apa yang perlu dan sembunyikan apa yang perlu. Lain soal kalau memang kita sedang bercakap-cakap dengan orang yang sudah dekat.

Ketujuh, tunjukkan ketulusan. Bedakan antara bercakap-cakap dengan mengintrograsi orang, bedakan dengan penyidikan atau penyelidikan. Masing-masing punya tempat yang tepat. Kehangatan suasana percakapan bisa mendadak berubah menjadi semacam intimidasi apabila kita dipahami sebagai orang yang ingin menggunakan trik, jebakan, atau manufer. Lain soal kalau kita ini polisi yang sedang mengintai.

Selain perlu memperhatikan hal-hal yang sebaiknya kita lakukan, kita pun perlu memperhatikan hal-hal yang sebaiknya kita hindari. Salah satunya dalah menghindari model pertanyaan dan pernyataan yang dapat menggangu kehangatan. Kalau mengacu pada pendapat Harry A. Mills (Negotiate: The Art of Winning, 1993), model pertanyaan dan pernyataan yang berpotensi menganggu itu antara lain:

 Menuduh atau menyalahkan.
 Menegur seperti layaknya seorang atasan menegur bawahan.
 Menjebak / memasukkan perangkap
 Memaksa.
 Meremehkan / Menyinggung

Barometer yang paling mudah kita pedomani adalah perasaan sendiri dan ekspresi orang lain, entah itu yang tersurat atau yang tersirat. Kalau kita merasa agak risih dipaksa-paksa orang lain atau dirayu dengan cara-cara yang menurut kita kurang OK, maka kira-kira orang lain pun akan seperti itu. Ini permisalan yang bisa kita kembangkan dalam praktek. Rasa enak dan tidak enak memang kurang ada bukunya tetapi kita bisa mempelajarinya dari praktek.


Tri Sila Dalam Membangun Hubungan

Jika masing-masing pihak punya kesimpulan yang sangat OK, biasanya akan berlanjut ke tingkat hubungan yang lebih dekat lagi. Menurut teori Verderber (1983), tingkatan relasi itu bisa bermacam-macam. Ini antara lain:

 Acquaintance relationship (kenalan biasa),
 Role relationship (hubungan berdasarkan peranan, misalnya: mitra bisnis, atasan-bawahan, dst),
 Friendship relationship (pertemanan),
 Deep friendship or intimate relationship (hubungan emosional).

Pertanyaannya adalah, bagaimana supaya percakapan itu tidak sekedar menghasilkan hubungan yang sifatnya acquaintance? Bagaimana supaya hubungan itu menjadi lebih dekat lagi? Bagaimana supaya hubungan itu tidak rusak? Ada beberapa pendekatan yang bisa kita lirik. Salah satunya adalah langkah-langkah berikut ini:

Pertama, be reliable (dapat dipercaya). Seperti yang sudah sering saya bahas, sumber kepercayaan itu antara lain:

 Kemampuan atau keahlian
 Kesalehan moral (kejujuran, tanggungjawab, dll)
 Bukti / fakta (prestasi atau lainnya)

Contoh yang sepele misalnya saja kita mengaku begini dan begitu saat percakapan berlangsung. Tapi setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata itu semua tidak benar / bohong. Mau tidak mau hubungan itu akan terganggu. Kata Craig Weatherup, Chairman & Ceo Pepsi, "Anda tidak bisa membangun kepercayaan dengan hanya omongan. Apa membangun kepercayaan dengan apa yang sudah anda lakukan."

Kedua, be rational (gunakan akal sehat). Yang kerap menjebak suatu hubungan adalah:

 Terlalu rasional
 Terlalu pakai perasaan
 Terlalu yakin

Terlalu rasional maksudnya adalah terlalu "itung-itungan" atau "terlalu teknis". Menghadapi manusia itu berbeda dengan menghadapi tehnologi. Manusia punya perasaan, sedangkan teknologi tidak punya. Teori "itung-itungan" meskipun terkadang punya alasan yang benar, namun lebih sering dirasakan tidak enak atau kurang mendukung keakraban

Sedangkan terlalu pakai perasaan maksudnya adalah terlalu mudah tersinggung, terlalu mudah merasa tidak enak tanpa alasan, terlalu submissive, terlalu "jaim" (jaga imej), tidak bisa mengatakan "tidak" secara asertif, dan lain-lain. Biasanya, kebaikan yang lahir dari kelemahan itu malah mengganggu hubungan. Karena itu ada pesan: "Jadilah orang yang baik tetapi jangan menjadi orang lemah; jadilah orang yang jujur namun jangan menjadi orang bodoh."

Terlalu yakin maksudnya adalah percaya sama orang tanpa bukti, tanpa proses atau tanpa alasan. Atau juga, memberi kepercayaan kepada orang lain tanpa kendali, mirip seperti memberi cek kosong. Biasanya, ini bisa membuat orang yang kita beri kepercayaan tidak sanggup menjaga kepercayaan itu. Misalnya saja: menyalahgunakan, menyimpang atau menghianati. Pendeknya, percayalah sama manusia, tetapi gunakan akal sehat.

Ketiga, be receptive (menunjukkan sikap welcome sama orang). Ini antara lain: mudah diajak ngobrol, mudah diajak membahas ide-ide baru, mudah diajak gotong royong, mudah diakses, enak ditemui, mudah membantu, dan lain-lain. Tentu ini perlu kita buat berdasarkan keadaan dan kebutuhan. Yang perlu kita jauhi adalah menunjukkan sikap atau muka yang kurang bersahabat. Atau juga sulit membantu orang lain (berhati keras). Ini bisa menganggu hubungan. Secara naluri, semua orang akan cenderung menyukai orang yang "enak". Tentu saja, enak dalam arti positif dan mempositifkan. Semoga bermanfaa

FB dan gejala autisme

Dimanakah Bahayanya FB?
Di awal tahun 2010 ini, kita dikejutkan oleh pemberitaan miring seputar penyimpangan sejumlah remaja yang gara-garanya Facebook (FB). Seorang remaja putri di Jawa Timur, nekat lari ke Jakarta, meninggalkan orangtuanya, setelah berkenalan dengan teman baru dari Tangerang melalui FB. Kata polisi, mereka telah melakukan perbuatan yang jauh belum saatnya.

Kasus yang sama menimpa remaja A di Jawa Tengah. Setelah sering menggunakan seluler untuk FB-an, remaja itu menghilang entah kemana. Ada semakin banyak orangtua yang menggelisahakan aktivitas putra-putrinya sehabis sekolah. Mereka tidak pulang. Mereka mampir di warnet untuk FB-an.

Bahkan, di jam-jam yang mestinya mereka masuk kelas pun, mereka kedapatan nongkrong di warnet, seperti yang terjadi di Depok. Setelah dilihat apa yang mereka lakukan, ternyata isinya balik lagi ke YM dan FB. Di Lampung, 4 pelajar remaja diberhentikan dari sekolahnya karena dinilai telah menghina guru mereka melalui FB.

Berdasarkan kasus-kasus itu, muncul pro-kontra dalam masyarakat. Ada yang berpendapat, FB harus diharamkan karena madhorot-nya. Tapi, kenyataan di lapangan sepertinya kurang bisa menerima secara plong pendapat ini. Alasannya, menurut pendapat yang tidak setuju, “ Kan bukan FB-nya yang salah. Yang salah kan otak manusianya?”, begitu kira-kira.

Alasan lainnya, FB tidak otomatik memberikan madhorot. Bahkan sempat terbukti memberikan maslahat, minimalnya untuk kelompok atau orang tertentu. Katakanlah di sini dukungan untuk Pak Bibit-Chanda, dukungan untuk pulau Komodo, dan lain-lain. Malah sekarang ini, FB telah dijadikan tren menggalang dukungan.

Terlepas pro-kontra itu, tetapi faktanya FB itu sudah ada di depan mata dan nyata. Sebagai produk tehnologi, dia hanya enabler (perangkat yang membuat kita mampu), bukan creator (perangkat yang berinisiatif sendiri). Karena enabler, dia bisa berbahaya dan juga bisa bermafaat, tergantung di tangan siapa. Man behind the gun.

Autisme Sosial Remaja
Sebut saja di sini keluarga Pak Djodi yang secara ekonomi masuk di kelas menengah. Karena ayah dan ibu bekerja di luar rumah, keluarga ini punya agenda memanfaatkan waktu liburnya untuk kumpul keluarga: ayah, ibu, dan kedua anaknya yang remaja.

Tapi apa yang terjadi selama di kendaraan dan di restoran? Kedua anaknya sibuk memainkan hape untuk sms-an atau FB-an dengan temannya yang entah di mana. Walhasil, hanya kelihatannya saja itu acara keluarga. Batin anaknya tidak involve 100% di proses acara keluarga itu. Malah terkesan buru-buru ingin meninggalkan acara karena ada urusan di luar lewat hape.

Ilustrasi di atas rasa-ranya sudah bukan fiktif lagi saat ini. Itu sudah menjadi fakta. Anak-anak remaja saat ini menghadapi banyaknya pilihan dan godaan yang ditawarkan layar kaca dan dunia maya, dari mulai hape, internet, game, dan lain-lain. Mungkin, orangtuanya dulu menghadapi tantangan berupa sedikitnya pilihan dan banyaknya keterbatasan.

Pertanyaannya, tantangan manakah yang sebetulnya lebih berat? Tantangan yang kita hadapi dulu atau tantangan yang dihadapi anak-anak kita sekarang ini? Namanya tantangan, pasti sama-sama berat. Karena itu, terkadang tidak seluruhnya tepat kalau kita mengatakan kepada anak, misalnya begini: “Kan hidupmu sudah enak, tidak seperti ayah-ibu dulu?”

Layar kaca dan dunia maya adalah tantangan generasi sekarang. Jika sikap mentalnya tidak tepat, misalnya berlebihan atau disalahgunakan, akan memberikan bahaya yang ekstrimnya seperti pada kasus-kasus di atas. Bahaya lain yang kelihatannya tidak ekstrim, tetapi tidak bisa dianggap remeh adalah melumpuhnya ketrampilan sosial (autisme sosial).

Padahal itu sangat dibutuhkan bagi kehidupannya di alam nyata, di sekolah, di tempat kerja, di keluarga, di masyarakat, dan seterusnya. Beberapa gejala kelumpuhan sosial yang perlu kita amati itu antara lain:

§ Rendahnya kemampuan bertatakrama, tatasusila dan etika dalam berkomunikasi.
§ Rendahnya kemampuan membaca bahasa batin dalam berkomunikasi
§ Melemahnya kepekaan terhadap kenyataan sehingga tidak mampu menyelami “What is happening” dan “What to do”
§ Membudayanya berpikir yang serba tehnik dalam menghadapi hidup karena terbiasa menghadapi tehnologi sehingga kurang bisa “soft” atau bijak
§ Rendahnya kemampuan menyelesaikan konflik dalam interaksi
Itu semua akan terjadi apabila penggunaan layar kaca dan dunia maya berlebihan atau tidak berkonsep, misalnya hanya untuk hahak-huhuk atau hanya karena desakan tren dan distraksi (gangguan pengembangan-diri) yang jauh dari sesuatu yang important (penting) atau priority (sangat penting).

Lain soal kalau digunakan untuk menjalankan konsep, seperti mahasiswa di Malang yang berhasil menciptakan game kelas internasional karena sering di warnet dekat rumahnya. Atau juga untuk mengkaji dan menambah pengetahuan, seperti yang dilakukan anak MAN di Bandung yang ilmunya lebih bagus dari gurunya gara-gara internet.

Pentingnya Interaksi Langsung
Sejak zaman dulu, peradaban manusia telah menawarkan berbagai cara untuk berkomunikasi, tidak selalu langsung berhadapan dan bergesekan. Misalnya saja surat-menyurat yang sudah dikenal sejak dula kala. Kemudian muncul tehnologi dengan menggunakan telepon. Dan kini muncul yang lebih canggih, chating atau FB.

Ada fakta menarik yang kerap luput dari kesadaran kita bahwa meski kemajuan zaman itu menawarkan sekian cara berkomunikasi, tetapi untuk kepentingan learning (mendewasakan manusia), belum ada yang bisa menggantikan atau mengungguli peranan komunikasi langsung (interaksi).

Malah kalau menurut laporan riset mengenai social learning (belajar dengan melihat orang lain), ternyata pengaruh interaksi melebihi pengajaran di kelas, seminar, atau belajar dari internet, terutama untuk pembelajaran perilaku. Adapun untuk menambah pengetahuan (pembelajaran intelektual) memang sekolah tidak ada duanya.

Kalau logika ini kita kaitkan dengan masalah yang mengancam kemampuan sosial remaja di atas, maka beberapa poin penting yang perlu kita sadari adalah:

§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin berkurang kesempatannya untuk belajar bertatakrama, tatasusila dan beretika. Dunia maya hanya mengajarkan apa yang ditulis. Soal tatakrama, tentu sangat minim. Seorang mahasiswa yang kebetulan asyik sms-an lalu menabrak dosennya, mungkin hanya akan bilang sori, dengan muka yang biasa-biasa. Padahal, secara tatakramanya mestinya tidak begitu.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin sedikit kesempatannya membaca suara batin orang lain. Kemampuan membaca suara yang tidak terdengar dalam komunikasi hanya bisa digali dari interaksi langsung. Menurut Peter Drucker dan juga praktek hidup yang kita alami, kemampuan membaca menjadi kunci dan tertinggi kualitasnya.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin kecil kesempatannya untuk merasakan dan menangkap apa yang terjadi nyata di sekelilingnya, seperti pada kasus ilustrasi keluarga Pak Djodi di atas. Atau juga bisa menjadikan FB sebagai pelampiasan mengatasi rasa malu dengan cara melarikan diri dari realitas, bukan work on reality.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin kecil kesempatannya untuk menggunakan pikirannya bagaimana berkreasi secara kreatif menghadapi konflik dalam praktek hubungan. Di dunia maya, begitu kita tidak cocok dengan seseorang, tulis aja atau delete aja. Tapi, dalam praktek hidup, itu tidak bisa.

Kalau dilihat dari konsep pendidikannya, dunia maya dan layar kaca pun dibutuhkan dalam mendewasakan manusia. Tetapi, jangan sampai itu menggantikan interaksi langsung, kecuali untuk ruang dan jarak yang tak bisa ditembus. Kenapa?

Dunia maya dan layar kaca hanya sampai pada memberi sumbangan dalam bentuk data, informasi, dan pengetahuan. Untuk praktek hidup, ini perlu ditambah lagi dengan wisdom. Darimana ini digali? Wisdom digali dari praktek, dari interaksi, dari konflik, dari gesekan, dan dari pemaknaan.

“DATA – INFORMATION – KNOWLEDGE – WISDOM”

Manajemen Layak Kaca & Maya Di Sekolah Dan Rumah
Akhirnya, mau tidak mau, kita harus berurusan dengan manajemen (pengaturan dan pengelolaan) untuk anak-anak kita yang sedang gandrung-gandrungnya FB dan Hape. Cara yang paling simpel, namun biasanya kurang ngefek itu adalah yang ekstrim, misalnya melarang atau membiarkan.

Ini karena pada setiap perkembangan manusia itu memunculkan watak ganda. Pada remaja, satu sisi dia harus tahu perkembangan zaman dan terlibat di dalamnya agar dia bisa bersikap. Kalau kita memaksa dia harus seperti kita, mungkin dia akan manjadi manusia terkuno di zamannya nanti.

Tetapi di sisi lain, konsistensi dia dalam memegangi ajaran moral dan mental itu masih labil, belum terkonstruksi secara kuat, layaknya orang dewasa. Karena itu, memberi cek kosong kepercayaan pada remaja, seringkali membuahkan penyesalan di kemudian hari.

Nah, manajemen di sini berguna untuk bagaimana kita tetap memberi kesempatan kepada mereka terlibat dalam perkembangan zaman, namun tidak sampai termakan oleh asumsi bahwa anak kita pasti sudah bisa menjaga dirinya sehingga kita terlalu membiarkan.

Agar manajemen ini bekerja, tentu dibutuhkan aksi, entah itu sosialisasi pemahaman, regulasi penggunaan, atau antisipasi penyalahgunaan. Untuk tehniknya, pasti kita punya cara sendiri yang lebih membumi. Hanya, secara umum, tehnik yang bisa kita acu itu antara lain:

§ Memberi bekal pengetahuan dan penyadaran mengenai hebatnya tehnologi dan potensi bahaya yang bisa ditimbulkannya. Anak kita sudah tahu itu, tetapi ucapan kita tetap diperlukan
§ Mengorek sikap anak terhadap kasus-kasus remaja terutama yang ditudingkan ke FB untuk memperkuat konstruksi sikapnya dalam menghadapi hidup
§ Beradu kompetisi untuk menemukan data, informasi, dan pengetahuan melalui internet dengan anak atau minimalnya belajar dari anak atau belajar bersama dia.
§ Perlu memonitor apa yang dilakukan anak selama berinteraksi dengan hape atau FB untuk memberikan ide-ide evaluasi konstruktif (membangun).

§ Perlu untuk tidak memberikan privacy yang berlebihan pada anak, misalnya kamarnya dikunci, di lantai II, bebas main internet tanpa pantauan, sms-an sampai tengah malam, pulang sekolah seenaknya, dan seterusnya.
§ Tetap memberi ruang untuk berinteraksi dengan kita secara nyata, face-to-face, dan real life agar terjadi gesekan, social learning, dan dinamika.

Yang Baik Pun Kalau Berlebihan Menjadi Kurang
Sampai pun kita tahu bahwa anak kita menggunakan internet itu untuk kebaikan, namun kalau berlebihan, misalnya berjam-jam di depan komputer, itu bisa menjadi kekurangan buat dia. Membaca buku itu sangat bagus, tetapi kalau berlebihan, terkadang menciptakan kekurangan, misalnya tidak bisa ngomong secara flow (mengalir), kurang tahan menghadapi kenyataan, atau keseimbangan fisiknya kurang.

Selama masih usia remaja, akan lebih bagus kalau dia merasakan berbagai pengalaman hidup, lebih-lebih pengalaman yang sedang ngetren di zamannya, namun tetap kita arahkan untuk memfokusi beberapa bidang yang nantinya berguna untuk dia, sambil bekerjasama untuk memantangkan mental dan moralnya

Telinga Kanan Lebih Mudah Menerima Ucapan Maaf

Pernahkah Anda kesulitan meminta maaf pada seseorang? Mungkin ada yang salah dengan cara Anda meminta maaf. Menurut peneliti, agar kata maaf lebih diterima oleh seseorang, ucapkanlah ke telinga kanannya.
Peneliti dari the University of Valencia, seperti dilansir Telegraph, Kamis (4/2/2010) mengatakan bahwa ketika sedang marah, telinga kanan akan lebih responsif terhadap suara atau bunyi-bunyian daripada telinga kiri.
Dengan mengatakan maaf ke telinga kanan maka kemungkinan pesan tersebut masuk ke otak akan lebih besar dan membuat kata maaf lebih mudah diterima. Peneliti menyimpulkan hal tersebut setelah melakukan tes pendengaran terhadap 30 partisipan pria yang sedang marah.
Untuk memancing emosi dan kemarahan partisipan, peneliti memberikan bacaan yang menimbulkan emosi dan permusuhan. Peneliti kemudian memonitor detak jantung, tekanan darah dan level hormon testosteron partisipan. Sebuah bunyi atau suara kemudian diperdengarkan pada telinga kanan dan kiri partisipan.
Berdasarkan hasil studi tersebut, ketika sedang marah ternyata partisipan lebih bisa menerima pesan atau bunyi-bunyian dari telinga kanan daripada telinga kiri. Hasil inilah yang kemudian membuat peneliti menyarankan pentingnya meminta maaf lewat telinga kanan.
Bunyi kata maaf yang dimasukkan ke telinga kanan akan memungkinkan pesan ‘maaf’ itu dicerna dan diproses lebih baik dalam otak, terutama otak kiri.
Seperti diketahui, otak kiri berfungsi mengontrol semua aktivitas dan merespons stimulasi anggota tubuh bagian kanan sementara otak kanan justru sebaliknya. Otak kiri juga berfungsi melakukan proses yang berhubungan dengan logika atau pemikiran sehingga bisa menerima pesan dengan lebih rasional.
Penemuan yang dipublikasikan dalam Journal Hormones and Behaviour ini menghasilkan teori baru, yaitu dengan mengarahkan pembicaraan ke telinga kanan, komunikasi akan berjalan lebih baik karena suara yang datang dari telinga kanan akan lebih didengar oleh otak daripada pesan dari telinga kiri.

Ciuman Dosa dan Berpahala

Oleh: Ghefira Naziha Zahara
Makin banyak saja hasil penelitian perilaku berbasis pada ilmu multidisiplin menjelaskan fenomana yang unik. Salah satunya adalah masalah ciuman. Namun sebagaimana sifat dan karakter ilmuwan barat yang sok “Netral Moral”, maka mereka tidak pernah menjadikan disiplin agama sebagai bagian penting dari sudut pandang.
Mereka secara tidak sadar…atau bahkan sadar menyebarkan kerusakan berdasar dalih ilmu pengetahuan, yang objektif dan ilmiah. Jelas mereka adalah penghamba saintism, yang menjadikan ilmu sebagai pedoman hidup bahkan alat untuk menentukan benar salah.
Coba perhatikan: Artikel di bawah yang menunjukkan adanya saran bahwa ciuman adalah bagaian terpenting dari pesta valentine. Padahal Valentine adalah kegiatan haram..terutama bagai ummat Islam, dan tentu saja budaya asing bagai budaya kita.
Kompas menulis: Di hari valentine ini, sebuah diskusi panel digelar para ilmuwan. Cukup menarik masalah yang dibicarakan, tak jauh dari persoalan kasih sayang, yakni misteri saat hati terpaut dan bibir tertanam di bibir (ciuman).
Kata para ahli itu, aksi ciuman akan diikuti dengan pelepasan zat-zat kimia yang bisa meredam hormon stres. “Senyawa kimia di ludah bisa jadi merupakan jalan untuk menilai pasangan,” kata Wendy Hill, profesor ahli Neuroscience dari Lafayette College saat acara bertajuk American Association for the Advancement of Science berlangsung.
Dalam sebuah eksperimen, Hill menjelaskan, para pasangan heteroseksual yang adalah siswa college itu mengalami perubahan kadar senyawa kimia oksitosin dan kortisolnya saat mereka melakukan adegan ciuman selama 15 menit sambil mendengarkan musik.
Oksitosin, dikatakan Hill, mempengaruhi keeratan hubungan pasangan, sementara kortisol terkait dengan stres. Senyawa kimia dalam darah dan kelenjar ludah diteliti lalu diperbandingkan saat sebelum dan sesudah ciuman berlangsung.
Baik pria maupun wanita mengalami penurunan kadar kortisol setelah ciuman, menandakan kadar stres juga menurun.
Bagi pria, saat ciuman, menaiknya level oksitosin menandai ketertarikan yang kuat atas pasangannya, sementara pada wanita oksitosinnya justru menurun. “Tentu ini mengejutkan,” ujar Hill.
Dalam sebuah uji coba kelompok yang menelaah efek berpegangan tangan, perubahan kimiawi juga terjadi dalam aksi ini, tetapi tak banyak yang bisa diungkapkan atau hasilnya tak jauh beda. Eksperimen ini, kata Hill, dilakukan di pusat kesehatan siswa di college tersebut. Dia berencana akan mengulanginya dengan rancangan “dalam suasana yang lebih romantis.”
Bersama dengan Helen Fisher dari Rutgers University dan Donald Lateiner dari Ohio University, Hill bicara di sesi berjudul “The Science of Kissing.”
Fisher sendiri mencatat, lebih dari 90 persen masyarakat dunia melakukan ciuman. Tindakan ini diyakininya memiliki tiga komponen antara lain dorongan seks, cinta romantis, dan keterikatan dengan seseorang.
Dorongan seks mendorong seseorang untuk menilai dan menentukan pasangan masing-masing, sementara cinta romantik menyebabkan mereka memfokuskan diri pada seorang individu; dan keterikatan pada seseorang, katanya, membuat seseorang membiarkan pribadi ini dalam jangka waktu lama membesarkan anak bersama-sama.
Pria, katanya, cenderung berpikir bahwa ciuman merupakan awal nge-seks atau kopulasi. Dia tegaskan, pria cenderung lebih suka sembarang cium. Meski begitu, senyawa kimia testosteron pria dapat segera bercampur di ludah wanita. Testosteron meningkatkan dorongan seksual bagi pria dan wanita.
“Saat Anda mencium, bagian tertentu di otak aktif,” tambahnya. Cinta romantik dapat berlangsung lama, “Jika Anda mencium orang yang tepat.”
Lateiner, sarjana ilmu klasik, mengobservasi bahwa ciuman kadang muncul dalam seni Yunani dan Romawi, meski secara luas dilakukan di samping kegiatan mencium kulit seseorang. Karena itu, berpotensi berbahaya bagi kehidupan seseorang kalau ciuman itu dilakukan pada orang yang salah dan saat yang kurang tepat.
Secara umum, ilmu pengetahuan tentang mencium-philematology-masih terus dijalankan. Demikian simpul Hill.
Sudah seyogyanya, sebagai orang muslim tidak perlu punya niat untuk bervalentine ria, sebab punya niat saja jelas keliru, apalagi melakukannya. Ciuman adalah aktivitas yang ada hukum syari’ahnya. Ia menjadi berpahala ketika dilakukan pada orang yang halal diciumnya dan bisa menjadi haram kalau hanya semata untuk sang pacar.
TIdak layak pula valentine untuk tujuan kampanye konyol, apalagi partai berbasis Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera Depok….tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara. Untung saja Majelis Syuro PKS nya tidak ikut keblinger.

Nonton TV Sebabkan Serangan Jantung dan Kanker

para penikmat televisi dan orang-orang yang terlalu banyak duduk, beresiko tinggi terkena serangan jantung dan kanker

Jika setiap hari menonton televisi, maka resiko kematian akibat terkena serangan jantung meningkat 1/5 kali. Begitu pula dengan aktivitas sendiri, seperti mengemudi dan duduk di depan komputer, beresiko besar terkena penyakit serius, demikian kesimpulan para peneliti Australia.
Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang menghabiskan waktu lebih dari empat jam menonton televisi, 80 persen cenderung meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan jantung, dibandingkan mereka yang menonton televisi kurang dari dua jam.
Dengan menelusuri gaya hidup 8.800 orang dewasa dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, peneliti juga menemukan bahwa mereka yang senang menonton tv lebih beresiko meninggal karena kanker.
Hasil penelitian tersebut dimuat dalam jurnal kesehatan Circulation: Journal of the American Heart Association edisi bulan ini.
Pemimpin penelitian Prof David Dunstan, dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Victoria mengatakan, “Kebanyakan orang, sehari-hari mereka punya kebiasaan pindah dari satu kursi ke kursi lainnya–dari kursi mobil ke kursi kantor, lalu ke kursi di depan televisi.”
“Bahkan jika seseorang memiliki bobot tubuh yang sehat, duduk untuk jangka waktu yang lama memiliki dampak yang tidak sehat bagi kadar gula tubuh dan lemak dalam darah.”
Para peneliti memeriksa tingkat kadar kolesterol dan gula darah mereka–sebagai indikator kunci kesehatan–dan berapa jam mereka habiskan untuk menonton televisi.
Dalam enam tahun, sebanyak 87 orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler, dan 125 orang meninggal karena kanker.
Penelitian yang dilakukan itu mengesampingkan faktor resiko lainnya, seperti merokok dan tekanan darah tinggi.
Para peneliti menganjurkan agar orang-orang menghindari kebiasaan duduk dalam jangka waktu yang lama, untuk mengurangi resiko terbentuknya penyakit.

Mengapa Kita Tak Ingat Saat Dilahirkan?

Kompas.com - Otak manusia memiliki kapasitas memori ribuan kali lebih tinggi dari komputer paling canggih yang ada saat ini. Massa abu-abu (gray matter) merupakan alat penyimpanan yang sangat bisa diandalakan. Namun, mengapa kita tidak bisa mengingat masa balita atau saat pertama kita lahir ke dunia?
Jangankan saat dilahirkan, otak kita juga tak bisa mengingat masa-masa ketika kita masih bayi atau balita. Ternyata sekeras apa pun kita berusaha, ingatan kita hanya bisa kembali sampai saat kita berusia 4-5 tahun.
Mengapa demikian? Salah satu teori menyebutkan hal ini karena faktor mielin, lapisan pelindung saraf yang membantu penghantaran sinyal-sinyal otak. Nah, sebelum berusia 5 tahun, mielin dalam otak bayi masih sangat sedikit. “Mielin sangat penting untuk menjaga ingatan jangka panjang,” kata Jonathan Schooter, PhD, ahli psikologi dari University of British Columbia.
Teori lain menyebutkan, begitu kita mulai belajar berbicara, kita tidak bisa lagi mengakses ingatan yang tercipta pada masa kita belum lancar berbicara. “Dengan makin berkembangnya kemampuan berbahasa seorang anak, cara ia berpikir juga akan berubah sehingga diduga lebih sulit untuk mengingat ingatan masa sebelumnya,” katanya. (kompas.com)

Mengapa Kita Tak Ingat Saat Dilahirkan?

Kompas.com - Otak manusia memiliki kapasitas memori ribuan kali lebih tinggi dari komputer paling canggih yang ada saat ini. Massa abu-abu (gray matter) merupakan alat penyimpanan yang sangat bisa diandalakan. Namun, mengapa kita tidak bisa mengingat masa balita atau saat pertama kita lahir ke dunia?
Jangankan saat dilahirkan, otak kita juga tak bisa mengingat masa-masa ketika kita masih bayi atau balita. Ternyata sekeras apa pun kita berusaha, ingatan kita hanya bisa kembali sampai saat kita berusia 4-5 tahun.
Mengapa demikian? Salah satu teori menyebutkan hal ini karena faktor mielin, lapisan pelindung saraf yang membantu penghantaran sinyal-sinyal otak. Nah, sebelum berusia 5 tahun, mielin dalam otak bayi masih sangat sedikit. “Mielin sangat penting untuk menjaga ingatan jangka panjang,” kata Jonathan Schooter, PhD, ahli psikologi dari University of British Columbia.
Teori lain menyebutkan, begitu kita mulai belajar berbicara, kita tidak bisa lagi mengakses ingatan yang tercipta pada masa kita belum lancar berbicara. “Dengan makin berkembangnya kemampuan berbahasa seorang anak, cara ia berpikir juga akan berubah sehingga diduga lebih sulit untuk mengingat ingatan masa sebelumnya,” katanya. (kompas.com)